Tampilkan postingan dengan label CHT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CHT. Tampilkan semua postingan

Manis - Pahit Cinta Pertama

Kau hancurkan hatiku hancurkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuh melihatmu

Ngederin lagu itu diputar di sudut café, aku sih cuek-cuek aja. Lagunya enak kok, apalagi dari band favoritku. Tapi kooook…

#Suara_Hati
Hiks, Hiks, Hiks, untukmu sang cinta pertama, tahu gak? Nyesek ini masih belum ilang dari dada. Semua yang terkubur menyeruak saat teringat sikap dinginmu dulu, yang berbanding terbalik  sama senyum manismu tempo hari, saat engkau menggandeng seorang wanita yang kemudian  kau kenalkan padaku sebagai seorang calon istri.

…biasa aja, bener kok biasa aja. Ini buktinya aku senyum kan, kan akunya udah mup on, beneran deh.. seriuuus.

Kadang nostalgia tak seindah kata mereka, buktinya punya ku enggak indah kok, malah rada-rada pait gitu. Masa SMP adalah masa indah yang penuh kenangan manis, soalnya saat itulah aku pertama kali merasa indahnya jatuh cinta. Namanya juga ABG, dimabuk asmara itu udah kayak surga dunia.

Mau makan, ingat dia. Mau tidur, ingat dia. Mau ke kelas, sempetin ngelirik dia. Udah di kelas curi-curi pandang  ke dia. Giliran mata kita beradu, langsung buang muka, malu malu keong gitu deh. *hihi *indahnya. :3

Awalnya aku tuh gak pernah kepikiran bakal suka sama dia. Di otakku itu cuma ada jajan, makanan pedes dan indomie aja. Kelas satu kita sekelas, kelas dua kita beda kelas, nah di situ kita mulai rasa ada yang hilang,kangen-kangen gimanaaa gitu, eits.. tapi waktu itu aku belum suka kok sama dia.


#Suara_Hati
Dear cintaku yang pertama. Aku bohong kok, aku suka kamu dari kelas 1, aku cuma ga berani aja. Habisnya…  kamu tuh yaa, udah ganteeeng, ramaaah, kalem, lucuu, imuut, gemesiin, nyebeliin, dingiin, maniis, uuuuunch. Liat kamu senyum aja aku hampir meleleh, apalagi ngobrol sama kamu.. bisa-bisa aku beneran cair…kamuuu,  iyaa kamuuu #plak!

Gak, gak! Gak gitu ish! Apaan sih ini pake suara hati segala? Kan..kan.. aku jadi maluuu…
Gak kok, beneraan!  Aku tuh waktu kelas satu cuma kaguma aja, belum ke tahap suka kok, ciyus.

Nah, pas kelas 3 nih, kita sekelas lagi. Dia duduk di belakang aku, dan akhirnya semuanya mengalir begitu aja. Awalnya aku basa basi tanya PR, dia jawab pake becanda. Sampe akhirnya tiada hari tanpa becanda sama dia. Pokoknya kita udah lengket kaya amplop sama uangnya.

Saking akrabnya, kita udah saling terbuka, saling tukar info tentang hobi dan hal-hal favorit. Eh ternyata kita banyak kesamaan, aku suka harpot - kamu juga, aku suka peterpan – kamu juga, aku suka indomie – kamu juga, aku suka kamu – kamu ju.. *some text missing*

Aku gak ngekhayal kok, beneran. Apasalah aku berharap? Tapi aku kan cewe, masa aku nembak duluan?


#Suara_Hati
Andai aku sebagai wanita tak punya batasan, sudah kupeluk engkau dan nyatakan cintaku. Namun ungguk merindukan bulan, aku cuma bisa nunggu kamu peka. Aku nunggu kamu rasakan dahsyatnya detak jantung ini, aku nunggu kamu tahu rasanya terenyuh cemburu saat kamu minjemin pensil sama cewek lain sambil nunjukin senyum manismu itu. Aku nunggu kamu suka sama aku.

Karena gak mungkin, akhirnya aku nulis semuanya curahan hati ini di buku tulisku. Sampai semester satu berlalu, aku masih terpaku sama kamu. Tapi dasar kamunya oon atau pura-pura gak tahu, setiap hari perhatian tapi gak pernah terucap, “Yuk kita jadian”. Aku tuh nunggu mas, nunggu.

Setiap habis ulangan semester, sekolah selalu ngadain lomba-lomba antar kelas. Aku diutus untuk ikut lomba gambar, awalnya aku nolak dengan keras, namun hati ini luluh saat kamu bilang…

“Ayo, maju aja, aku yakin kamu bisa”.

Gimana hatiku gak lunak? Kalau yang dukungnya kamu… iyaaa, kamu.

Akhirnya aku ikutan lomba, set sat set kelar juga. Aku dijemput temen semejaku, katanya si dia lagi tanding basket, gitu. Sontak aku semangat 45, capcus ke lapangan, ekh taunya cewek-cewek pada rame kalau dia lagi pegang bola, nyesek sih, ternyata rivalku banyak juga. Meskipun ujungnya kalah, tapi dia tetep pemenang…. di hati aku. *shy *gigitsepatu

Dari sekian banyak cewek yang nonton, selesai tanding dia malah lari nyamperin aku. Dia tanya-tanya tentang lombaku, dan dia doain aku menang. Abis itu dia minta minumku, meski bekas dia gak peduli.

#Suara_Hati
Dear Mase yang tak kunjung peka, gimana aku gak salah paham kalau kamunya gini terus. Mau dibawa hubungan kita mas, mau dibawa kemanaa?

Selesai perlombaan, semua berlalu gitu aja. Gak ada yang istimewa, karena kami terpisah jarak karena libur satu minggu.

Upacara bendera pagi itu, menjadi pertanda kalau semester dua udah dimulai. Di akhir upacara, ada acara pembagian hadiah lomba. Enggak ada yang nyangka, kalau aku bakal jadi juara satu lomba menggambar. Aku yang juara, kamunya yang jingkrak kegirangan. Sambil megang pundakku, kamu dorong-dorong aku kedepan sambil bilang, “Maju ca, maju”.

Aku maju ke depan, terima hadiah, dan difoto bareng guru dan kepsek. Pas aku balik ke barisan, kamu nyambut aku sambil lambai-lambai tangan. “Yeee, salemat ya ica, aku seeneeeng banget”, hey mas, masih inget gak kamu bilang gitu waktu itu? Sampe semua orang disekitar liatin kita. *aku kan maluuu *shy #plak!

#Suara_Hati
Tembak aku mas, tembak, tembak aku pls. Kamu loh mas, kamu… iya itu kamu yang suka bikin salah tingkah, tembak aku mas, sekarang!
 

Sampe upacara selesai, gak terjadi apa-apa lagi. Dia balik ke kelas, aku ke ruang guru buat ambil hadiah beasiswaku.

Hati rada dak dik duk waktu itu, entah kenapa kaki ini rasanya berat banget. Perasaan gelisah dan males ke kelas tiba-tiba ada. Aku tetep maksain jalan ke kelas, dan ketika baru buka pintu…

#Suara_Hati
OMG! Iki Opo? Kok semua liatin aku sih?

“Ciyeeeeeeeee, Ica lope lope sama adam! Ciyee Adam lope Ica, ciyeee… tembak-tembak-tembak.”

Satu kelas heboh, dan temen semejaku lagi cekikikan di samping Adam yang mukanya merah padam.

“Tembak dam, jadiin dam! Tembak!” teriak temen-temen.

“Dam, ka-kamu baca tulisan di buku itu?” tanyaku gugup.

“Iya, sebenernya aku wis reti kok” jawabnya datar.

Terus karena guru datang ke kelas, semua itu terhenti. Aku udah kayak mati berdiri rasanya. Keringet dingin ngucur deres. Aku coba ajak Adam bercanda, tapi dia cuek aja. Sampe pulang sekolah, Adam gak nanya aku lagi, sepatah katapun.

Besoknya, aku coba ajak dia becanda, tapi kondisi kelas belum reda. Pas pulang, di parkiran dia nyapa aku lagi. Dia cuma bilang hati-hati sama ngingetin vcd pertepan yang aku pinjem. Setelah semua itu, dia gak pernah lagi ngomong sama aku. Dia terus menghindar kalau aku sapa. Bahkan buang muka waktu aku tatap.

Sampe lulus, dia gak pernah lagi gubris aku. Aku patung bagimu Dam? Sampe segitunya… Sakit Dam! Sakit!

Cinta pertama memang gak semuanya berakhir bahagia.  Bertepuk sebelah tangan juga bisa jadi opsinya. Ya kayak aku gini, bertepuk sebelah tangan, sebelum semua kuungkapkan, sebelum semuanya terucap dari bibirku.

Kadang suka nyesek kalau lagi dengerin lagu Peterpan atau Noah, apalagi lagu favoritku yang judulnya “Tak Bisakah”. Dasar nasib, lagu favorit justru berimbas pada realita cintaku yang pertama. Pengen rasanya aku curhat sama Albus Dumbledor buat ngambil semua ingatan diri dari kepalaku. Atau aku gabung sama Voldemort, jadi Deadeaters, biar kuhantui kamu selamanya.

#Suara_Hati
Kesel hatiku, sabar menanti. Ngempet sakit di hati. Cinta sama kamu, apa harus sesakit ini? Nangis batin sampe kayak gini? Mungkin ini jalannya, cintaku yang pertama yang kuharap akan bersemi, justru terkubur menjadi pupuk untuk masa nanti.





CHT & True Story of my Friend : Indomie Lovers

Author : -Maul-

Parkiran Cintamu

Aku tak pernah nyangka bakal kayak gini jadinya. Gapernah kepikiran juga bakalan sesakit ini. Ibarat perahu kecil yang  terseok-seok ombak badai, aku cuma bisa berlomba dengan waktu dan mencoba untuk tidak karam.

Aku mengenalnya secara biasa, media sosial dan segala tipu dayanya. Berawal dari ia menyapa, kemudian aku hanyut karenanya. Tadinya sih aku dingin dingin so cool gitu, tapi lama-lama kok keterusan juga. Yahoo Messenger yang jadi saksi, antara aku, kamu dan sakitnya dibohongi.

Kalian yang pernah merasakan sakitnya digantung, mungkin akan mengerti sesakit apa hatiku saat ini. Kalau diceritain mah sakitnya tuh kayak lagi asyik di pantai ramai yang mendadak sepi, kemudian tersapu ombak ke tepi, dan terseret ke tengah teluk tanpa ada kesempatan kembali.

Aku terlanjur terjerembab dalam rasa cinta yang meletup-letup layaknya merecon sunatan. Jengah aku dengan janjinya, namun hati ini terlalu tahan banting, atau mungkin cinta ini mengandung formalin, begitu utuh, tak kunjung membusuk.



Setiap malam kita Chit Chat, bahkan sering juga Video Callan. Tapi 6 bulan jalan kita berbagi kesenangan, dia mulai memudar dan kemudian menghilang. Resiko sih, kenal orang hanya lewat dunia maya yang terkenal fana. Aku keep Posthink aja, mungkin dia sibuk. Maklum, dianya itu anak Band gitu. Tapi kok lama-lama kangennya kerasa ya? Mungkin mulai dari sana, hatiku kesentil virus yang yang menyebabkan penyakit bernama ‘sindrom jatuh cinta’.

Aku di Tasik, dianya di Bandung, jarak kami gak jauh kok, cuma naik turun dan berkelok aja, persis kaya persaanku saat ini. Satu tahun gak kontekan, eh dia kembali datang. Padahal kukira dia sudah meminang anak orang. Antara marah, sebel, sama seneng jadi satu. Kecut-kecut sepet tapi manis gitu deh momentnya.

“Malem kamu…” sapa dia.

“Aku kira kamu udah lupa sama aku?” jawab aku.

“Mana bisa aku ngelupain orang sebaik kamu?” jawabnya bikin aku berharap lebih.

Senang bungah bagja sumringah. Aku pun melompat #hap loncat kegirangan, tapi kuterjatuh #gubrag dari kursi goyang. Iiiih, sebel! Manis di kata, pahit di realita… Dia pergi lagi, dan cukup lama. Dua kali lipat durasinya… 2 Tahun lamanya.

Menggantung asa pada tiang lapuk dan rapuh, cintaku hanya tinggal menunggu runtuh. Kucoba mencari tahu, bukan obat yang melegakan aku dapat, malah sebatang lidi yang memecut hati. Pantes aja dia menghilang, hatinya udah dicuri orang.

Sakitnya hatiku ini, mendengar kabar hatimu dicuri. Sebetulnya hati aku sakit, tapi aku mencoba seakan-akan gapapa. Rasa hati remuk gak karuan, teringat manisnya perhatianmu yang dulu kau curahkan. Terbakar rasa cinta, panasnya menyebak di dada.

Tapi dia malah datang lagi, ini yang membuatku bingung. Bingung menimbang, maka kuputuskan untuk  diam. Perhatian demi perhatian dia curahkan, meski aku tahu betul tak sedikitpun ada aku dihatinya. Aku mengalah demi pacar barumu, aku sendiri sedang engkau bercinta. Satu yang kuminta, jangan lupa bahagia.

Pas katanya ada Java Tour buat bandnya. Malam itu sebetulnya kuharap tak pernah terjadi. Dia menelponku melontar sejuta puji. Cinta yang ku kubur malah serasa dipupuk dan disirami, dan si tunas nakal malah mencuat sendiri.

“Aku kangen kamu”

“Ai kamu salah nelpon engga?”

“Engga kok, aku kangen kamu”.

Sandiwara apa lagi ini teh? Aku teh lelah, sumpah.

Dia curhat tentang kekasihnya, padaku yang tersiksa merindu dan berusaha menghapus rasaku padanya. Ketidakpekaannya itu amat menyiksa, aku tersenyum meski punggungku penuh luka. Kuberi kau petuah petuah manis, meski pahit di lidah. Kemudian kau kembali menghilang.

Selang 2 bulan, lagi-lagi kau datang. Sapa aku seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Kabar kau putus dengan pacarmu kembali menghipnotisku. Seperti dulu, kita dekat meski tak pernah rapat. Kita menyatu dalam dunia yang kita ciptakan.

Hingga kau datang sambangi aku, bagai ditimpa pohon kelapa beserta manggarnya. Bahagia kurasa cetar membahana. Kusiapkan senyum terindah, meski hanya untuk semangkuk baso dan beberapa jam saja.

Kemudian dia menghilang lagi 6 bulan lamanya. Namun kali ini aku tak sebal, aku mengerti karena dia sibuk dengan bandnya. Saat dia kembali menghubungi, kubulatkan hati ini.  Tekad yang kukumpulkan tak boleh disia-siakan, kunyatakan perasaan meski harus sakit mendengar jawaban.

“A, aku mau ngomong”

“Ngomong apa sih mi..”

“Sebenernya umi teh sayang sama Aa”

“Hahaha si umi bisaan ngehiburnya”

“Serius A, umi sayang Aa, Cinta Aa.. udah lama rasa ini teh, umi pendam”

“Makasih mi, kamu emang orang yang baik. Aa bahagia”.

Nembak malah dijawab makasih, kamu kuat jadi aku?

Gak mau menggantung diri sendiri, aku putuskan menjauh. Aku mundur perlahan demi kesembuhan hatiku. Aku mundur demi kita, agar tak lagi aku berharap pada fatamorgana yang menyeretku ke tengah gurun panas yang akan mengeringkanku.

Aku abaikan segala pesan dan telp darinya. Kemudian aku blok semua akunnya demi hati ini.

Tapi tanpa perasaan dia terus menerorku. Dia kirimi aku pesan berkata indah, memohon maaf dan mengukir janji. “Kangen” adalah senjatanya meluluhkan aku. Risih aku terus tertanggu, tak diberi waktu membuka lembar baru.

Terakhir kali dia janji tak akan pergi lagi. Namun nyatanya terbalik, hingga saat ini entah dimana kau dan janjimu itu.

Saat aku tunggu, kau menghilang
Tiba-tiba kamu datang tanpa permisi
Stop sayang, aku bukan terminal cintamu
Datang-pergi, parkir hati semau sendiri

Sudah cukup kau bohongi aku
Sudah cukup kau sakiti aku
Tak terasa menetes air mataku
Tak kukira kandas cintaku

Kau pikir hati ini Kos-kosan?
Datang-pergi untuk mainan?

True Story of : I.D.P – Tasikmalaya

Author : -Maul-


Special thanks to Ndx a.k.a for amazing lyrics

Bunga yang Mekar Setelah Hujan




Menitik beratkan pada kerinduan, bebannya tak seberapa berat dibanding perjuanganku menahan sesak saat salami kau di pelampinan bersama wanita lain. Tak mudah untuk membuang sisa kenangan yang membekas, ukiran permanen terlanjur terpampang, kalau di hancurkan, bisa ikut hatiku lebur bersamanya.

Kutatap halaman dari celah jendelaku, hujan sedang menari dengan anggun. Lenggoknya membawa butir-butir kenangan yang memudar. Desir angin yang masuk di celah ventilasi, menggelitik kulitku untuk mengingat dinginnya hari itu.

Sepulang dari pasar, hujan menghadang laju motornya. Tak ingin aku kebasahan, dia menepi di sebuah warung mie ayam. Digandengnya aku masuk, rambutku yang basah dipeganginya, hangat. Tangannya mengusapku manja, matanya memancarkan cinta dan kekhawatiran.

“Nduk, kamu gak papa? Dingin gak?”,

“Hm.. I-ya mas, lumayan dingin” jawabku malu-malu.

Perhatiannya hari itu sudah bagaikan selimut tebal berbulu, halus, nyaman dan tentunya menghangatkan. Warung mie ayam itu sangat ramai, namun dengan sigap dia menemukan celah untukku duduk. Dia berdiri sambil menghisap rokoknya, namun ia matikan sesaat setelah mendengar batuk keluar dari mulutku.

Mie ayam hari itu menjadi istimewa, berbumbu hujan dan cinta. Ah, kalau saja Tuhan tak menurunkan berkahNya, mungkin hari itu tak semanis ini. Hujan reda, dia mengajak aku pulang kemudian. Tanganku melingkar di pinggannya, punggungnya yang lebar dan nyaman itu masih teringat rasanya. Pipi ini memang manja, saat itu dia menempel erat di bajunya yang basah. Hingga terpaksa aku melepasnya, saat ia memberitahu bahwa kami sudah berada di depan rumah. Rasanya begitu singkat, belum puas aku dibuatnya.



Pertemuan kami memang tak sengaja, dan tak disangka kami akan jalan bersama. Diawali aku dan sepupuku membeli pulsa, dan rental PS di dekat sana. Lazim ketika seorang pelanggan menulis nomor HPnya sebagai catatan laporan yang sepenjaga. Hingga datang ia dengan SMS pertamanya.

Awalnya aku tak begitu niat meladeninya, namun kejujurannya membuatku tak sadar bahwa kami bertukar pesan setiap harinya. Dia mencatat nomorku dari Counter Pulsa itu, saat itu dia mengintipku dari jendela rental PS di sebelahnya. Dia ingin menyapa tapi segan, takut tak kurespon alasannya.

Kian lama, pesannya kiat hangat, sadar aku itu hanya siasat, namun tak apa, aku suka karena dia terbuka. Tak puas hanya lewat kata, dia mengajakku untuk bertatap muka. Masih ingat betul aku wajahnya yang memerah itu. Sesekali ia memalingkan muka ketika selesai bicara, biar tidak gerogi katanya. Sering bertemu dan saling melempar perhatian, akhirnya 2 hati bertambat bertautan.

Dia menyatakan cinta dengan terbata, aku menerima dengan senyum bahagia. Tatap mata kami beradu pandang, wajah kami perlahan mendekat. Napasnya mulai berat, wajahnya memerah, tapi dia pucat. Padahal aku sudah pasrah kalau dia ingin menciumku, namun urung ia perbuat. Dia tak senakal itu katanya, aku pun jadi malu sendiri mengingatnya.

Seiring waktu, hubungan kami kian dekat, kami berdua kian erat, rekat. Orang tua kami menyambut baik, hingga  1 tahun hubungan kami berjalan, rencana mulia mulai dibicarakan. Sepulang dari pasar kala itu, hujan kembali turun. Dia mampir ke rumahku, ingin pulang tapi aku larang, ibu dan bapaku juga paham, karena hujan lebat yang menghadang. Hingga dia pasrah saat bapak menyuruhnya menginap saja.

Saat Subuh kulihat wajahnya kusut, tak bisa tidur katanya. Wajar saja, mana ada yang bisa nyenyak tidur di samping calon bapak mertuanya. Dia di suruh menjadi imam namun menggelengkan kepala, belum cukup ilmu dalihnya. Namun bapakku sama kerasnya, akhirnya dia memimpin kami beribadah menghadap Sang Pencipta.

Keluarganya sangat menyayangiku, itu yang kurasakan dari perlakuan mereka. Seakan meraka sudah siap menerimaku sebagai menantunya. Berbunganya hati ini dengan segala wewangiannya. Ibunya sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Dia sangat senang kami dekat, bahkan keluarganya sudah bicara tentang masa depan dan macam macam kebahagiaannya nanti.
Dua bulan sudah dia jadi dingin, tak hangat lagi. Sunggih senyumnya nampak dipaksakan, kuminta antar ke pasarpun dia mengelak seribu alasan. Aku tak tahu apa yang terjadi, aku cuma bisa melamun di kamar, meratapi. Dia mulai membeku, tanpa kutahu apa salahku.

Padahal setahun kami merajut asa, bahtera hampir siap mengarung samudera. Tapi sang calon Nahkoda gundah, karena Kaptennya tak kunjung memberi perintah untuk kembangkan layarnya. Aku terombang ambing dalam gelisah, resah ini menenggelamkanku, apa gerangan yang terjadi padanya.

Sebagai wanita, kodratku hanya menunggu, jika tak kunjung datang niatnya, maka mahkotaku tak akan pernah kupakai. Semakin lama dia semakin dingin, kemudian kubertanya kenapa. Dia tak menjawab, malah marah dia tumpahkan. Aku terisak dalam tangis, sakit hati karena hati cintaku menghitam.

Aku pun mencurahkan semua isi hatiku pada kawanku, dia bilang pasrah saja. Dia menyarankanku untuk berpisah, dia bilang lelaki itu tak pantas untukku. Aku yang percaya menelan semua, rasanya cintaku telah berada di penghujung tiang pancung, siap diputuskan kapan saja.

Rupanya kawanku serigala berbulu domba, dia memegang kendali panggung sandiwara. Didekatinya kekasihku, dikatanya aku penipu. Cintaku berputar di telapak tangannya, tanpa sadar kami berdua jadi bonekanya. Awalnya aku masih tak percaya, kubela kawanku yang memang kupikir mengerti aku, namun semua berakhir kala suatu ketika…

Empat bulan sudah kami tak bertegur sapa, aku diterlantarkan tanpa kejelasan. Ingin kuminta akhiri saja semuanya, namun hati ini masih setengah menerima. Kulihat kasihku membonceng kawanku, dengan lengan melingkar di pinggangnya. Lututku lemas, pundakku tak kuat lagi menopang beban, suara retakan hati menggema telingaku.

Tapi entah kenapa air mata tak bisa menetes, sia sianya rasanya membuang air mata untuk ini semua. Ku paksakan untuk pulang, kukunci diri di kamarku dan terlelap perlahan. Baru saja kuhendak terseret ke alam mimpi, petir membangunkanku. Rupanya langit menggantikan aku, dia menangis dengan lantang. Teriakannya menggema, sedikit lega rasanya karena aku masih punya yang Maha Melihat dan Maha Bijaksana.

Hampir setahun sudah digantungnya aku. Dia dan kawanku semakin berani menebar kemesraan. Ibuku marah padaku, kenapa tak ada kabar bahwa kami telah pisahan. Kujawab datar bahwa aku tak diputusnya, Ibu memelukku sangat lama.

Kukunjungi rumahnya untuk ucapkan maaf dan salam perpisahan. Ibunya menangis pilu menatapku, berkali-kali ia ucapkan maaf. Ia panjatkan doa-doa mulia untukku, agar kebahagiaan menyertaiku. Sementara anaknya terlihat bahagia, pulang ke rumah menggandeng cinta barunya.

Terpaku ia membatu, kawanku hendak bicara namun terbata. Kuucapkan selamat padanya dengan berat hati, namun tetap kuusahakan senyum ini tetap menghiasi. Dia yang pengecut mendunduk malu, kemudian memanggilku setelah beberapa langkah aku menjauh.

“Nduk, mas bisa jelasin semua,”

“Cukup mas, aku cukup tahu dengan kelakuanmu dan Ana,”

“Tapi nduk, bukannya kamu?”

“Aku apa mas? Aku kenapa? Setahun aku menunggu kamu mas, tapi tak kunjung kamu datang. Setahun aku menggantung menanti kejelasan, tapi mas malah senang-senang sama sahabatku! Cukup sampai di sini mas, telan semua janjimu dulu beserta buala-bualan manis itu!”

Aku melawan kodratku, memutuskan tali kekang yang setahun membelenggu. Kukira akan terlontar maaf darinya, namun bukan maaf kudapat malah sepucuk surat undangan yang datang.

Dia menikah dengan Ana karibku, orang yang kucurhati sepanjang waktu. Orang yang memberiku saran untuk tetap kuat, untuk berpikir. Namun aku sudah mengakhir semua, jadi aku tak lagi mempersoalkan. Kuhadiri pesta itu dengan hati yang mengeras mengalahkan karang seorang diri. Orang tuaku tak sampai hati dan tak sudi untuk pergi.

Kusalami ia dengan senyum, tak lupa juga kudoakan dia bahagia dihadapan semua. Orang-orang menatapku, seorang menantu tak jadi yang menyalami calon mertuanya. Ibunya tak , kuat menahan tangis, berulang kali dia mengiba maafku.

“Maafin Feri Shin, Feri yang salah, Feri yang salah,”

“Gak ada yang salah bu, memang sudah jalannya begini,” ujarku

“Feri yang salah Shin, Feri yang salah,” ulangi ibu. Hingga akhirnya bapaknya berhasil menenangkan.

Bapak memegang pipiku, matanya merah seperti menahan tangis. Ditatapnya aku, dan kemudian pecahlah ia. Diusapnya kepalaku sambil memanjat doa mulia…

“Shinta jangan kapok main ke rumah, jenguk bapak sama ibu ya. Shinta hebat, Shinta kuat, Shinta sudah menjadi wanita mulia, Shinta pasti bahagia. Shinta masih tetap akan jadi anak bapak sama ibu, salamin sama orang tuamu yah” katanya.

Aku hanya bisa mengamini, air mataku menetes perlahan meski senyumku tetap kupertahankan. Hingga pulangnya aku, dan menangis keras dalam kamar.

Beruntung ada mas Rama yang membangkitkan aku. Kakak kelas ku zaman sekolah dulu ini dengan sabar menyembuhkanku, dan kemudian meminangku. Kami hidup sangat bahagia, ditambah lagi kami dikaruniai seorang putri yang lucu.

Hujan mulai mereda, tak sadar aku melamun mengenang masa lalu. Mas Rama yang membuyarkan lamunanku. Menyadarkanku bahwa cinta sejatiku sedang duduk di sampingku sambil membaca buku. Ku peluk lengannya dan kusandarkan pipiku dipundaknya.

“Kebiasaan deh, giliran papa nganggur di diemin. Giliran papa baca buku kamu nyender,” Protesnya.

“Gapapa dong pa, abis pundak sama punggung papa nyaman sih,” pungkasku.

“Mau baca juga?” tawarnya.

“Emang buku apa?” tanyaku.

“Novel, bagus, baca deh” sarannya.

“Aku maunya dibacain,” jawabku manja.

“Hish dasar, sini” kata ia mencolek hidungku.

“Yeey” sambutku gembira sambil merebahkan diri di sopa dan menjadikan paha suamiku sebagai bantalnya.

Tanpa sadar aku tertidur, sadar aku sudah berada di kamar berbalut selimut dengan mas Rama memelukku mesra.

“Seperti bunga yang mekar sesaat setelah diterpa hujan, butir air sisa hujan menempel padaku dan menambah keindahan”.

Terinspirasi dari kisah kawanku ******


Author : -Maul-