Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Manis - Pahit Cinta Pertama

Kau hancurkan hatiku hancurkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuh melihatmu

Ngederin lagu itu diputar di sudut café, aku sih cuek-cuek aja. Lagunya enak kok, apalagi dari band favoritku. Tapi kooook…

#Suara_Hati
Hiks, Hiks, Hiks, untukmu sang cinta pertama, tahu gak? Nyesek ini masih belum ilang dari dada. Semua yang terkubur menyeruak saat teringat sikap dinginmu dulu, yang berbanding terbalik  sama senyum manismu tempo hari, saat engkau menggandeng seorang wanita yang kemudian  kau kenalkan padaku sebagai seorang calon istri.

…biasa aja, bener kok biasa aja. Ini buktinya aku senyum kan, kan akunya udah mup on, beneran deh.. seriuuus.

Kadang nostalgia tak seindah kata mereka, buktinya punya ku enggak indah kok, malah rada-rada pait gitu. Masa SMP adalah masa indah yang penuh kenangan manis, soalnya saat itulah aku pertama kali merasa indahnya jatuh cinta. Namanya juga ABG, dimabuk asmara itu udah kayak surga dunia.

Mau makan, ingat dia. Mau tidur, ingat dia. Mau ke kelas, sempetin ngelirik dia. Udah di kelas curi-curi pandang  ke dia. Giliran mata kita beradu, langsung buang muka, malu malu keong gitu deh. *hihi *indahnya. :3

Awalnya aku tuh gak pernah kepikiran bakal suka sama dia. Di otakku itu cuma ada jajan, makanan pedes dan indomie aja. Kelas satu kita sekelas, kelas dua kita beda kelas, nah di situ kita mulai rasa ada yang hilang,kangen-kangen gimanaaa gitu, eits.. tapi waktu itu aku belum suka kok sama dia.


#Suara_Hati
Dear cintaku yang pertama. Aku bohong kok, aku suka kamu dari kelas 1, aku cuma ga berani aja. Habisnya…  kamu tuh yaa, udah ganteeeng, ramaaah, kalem, lucuu, imuut, gemesiin, nyebeliin, dingiin, maniis, uuuuunch. Liat kamu senyum aja aku hampir meleleh, apalagi ngobrol sama kamu.. bisa-bisa aku beneran cair…kamuuu,  iyaa kamuuu #plak!

Gak, gak! Gak gitu ish! Apaan sih ini pake suara hati segala? Kan..kan.. aku jadi maluuu…
Gak kok, beneraan!  Aku tuh waktu kelas satu cuma kaguma aja, belum ke tahap suka kok, ciyus.

Nah, pas kelas 3 nih, kita sekelas lagi. Dia duduk di belakang aku, dan akhirnya semuanya mengalir begitu aja. Awalnya aku basa basi tanya PR, dia jawab pake becanda. Sampe akhirnya tiada hari tanpa becanda sama dia. Pokoknya kita udah lengket kaya amplop sama uangnya.

Saking akrabnya, kita udah saling terbuka, saling tukar info tentang hobi dan hal-hal favorit. Eh ternyata kita banyak kesamaan, aku suka harpot - kamu juga, aku suka peterpan – kamu juga, aku suka indomie – kamu juga, aku suka kamu – kamu ju.. *some text missing*

Aku gak ngekhayal kok, beneran. Apasalah aku berharap? Tapi aku kan cewe, masa aku nembak duluan?


#Suara_Hati
Andai aku sebagai wanita tak punya batasan, sudah kupeluk engkau dan nyatakan cintaku. Namun ungguk merindukan bulan, aku cuma bisa nunggu kamu peka. Aku nunggu kamu rasakan dahsyatnya detak jantung ini, aku nunggu kamu tahu rasanya terenyuh cemburu saat kamu minjemin pensil sama cewek lain sambil nunjukin senyum manismu itu. Aku nunggu kamu suka sama aku.

Karena gak mungkin, akhirnya aku nulis semuanya curahan hati ini di buku tulisku. Sampai semester satu berlalu, aku masih terpaku sama kamu. Tapi dasar kamunya oon atau pura-pura gak tahu, setiap hari perhatian tapi gak pernah terucap, “Yuk kita jadian”. Aku tuh nunggu mas, nunggu.

Setiap habis ulangan semester, sekolah selalu ngadain lomba-lomba antar kelas. Aku diutus untuk ikut lomba gambar, awalnya aku nolak dengan keras, namun hati ini luluh saat kamu bilang…

“Ayo, maju aja, aku yakin kamu bisa”.

Gimana hatiku gak lunak? Kalau yang dukungnya kamu… iyaaa, kamu.

Akhirnya aku ikutan lomba, set sat set kelar juga. Aku dijemput temen semejaku, katanya si dia lagi tanding basket, gitu. Sontak aku semangat 45, capcus ke lapangan, ekh taunya cewek-cewek pada rame kalau dia lagi pegang bola, nyesek sih, ternyata rivalku banyak juga. Meskipun ujungnya kalah, tapi dia tetep pemenang…. di hati aku. *shy *gigitsepatu

Dari sekian banyak cewek yang nonton, selesai tanding dia malah lari nyamperin aku. Dia tanya-tanya tentang lombaku, dan dia doain aku menang. Abis itu dia minta minumku, meski bekas dia gak peduli.

#Suara_Hati
Dear Mase yang tak kunjung peka, gimana aku gak salah paham kalau kamunya gini terus. Mau dibawa hubungan kita mas, mau dibawa kemanaa?

Selesai perlombaan, semua berlalu gitu aja. Gak ada yang istimewa, karena kami terpisah jarak karena libur satu minggu.

Upacara bendera pagi itu, menjadi pertanda kalau semester dua udah dimulai. Di akhir upacara, ada acara pembagian hadiah lomba. Enggak ada yang nyangka, kalau aku bakal jadi juara satu lomba menggambar. Aku yang juara, kamunya yang jingkrak kegirangan. Sambil megang pundakku, kamu dorong-dorong aku kedepan sambil bilang, “Maju ca, maju”.

Aku maju ke depan, terima hadiah, dan difoto bareng guru dan kepsek. Pas aku balik ke barisan, kamu nyambut aku sambil lambai-lambai tangan. “Yeee, salemat ya ica, aku seeneeeng banget”, hey mas, masih inget gak kamu bilang gitu waktu itu? Sampe semua orang disekitar liatin kita. *aku kan maluuu *shy #plak!

#Suara_Hati
Tembak aku mas, tembak, tembak aku pls. Kamu loh mas, kamu… iya itu kamu yang suka bikin salah tingkah, tembak aku mas, sekarang!
 

Sampe upacara selesai, gak terjadi apa-apa lagi. Dia balik ke kelas, aku ke ruang guru buat ambil hadiah beasiswaku.

Hati rada dak dik duk waktu itu, entah kenapa kaki ini rasanya berat banget. Perasaan gelisah dan males ke kelas tiba-tiba ada. Aku tetep maksain jalan ke kelas, dan ketika baru buka pintu…

#Suara_Hati
OMG! Iki Opo? Kok semua liatin aku sih?

“Ciyeeeeeeeee, Ica lope lope sama adam! Ciyee Adam lope Ica, ciyeee… tembak-tembak-tembak.”

Satu kelas heboh, dan temen semejaku lagi cekikikan di samping Adam yang mukanya merah padam.

“Tembak dam, jadiin dam! Tembak!” teriak temen-temen.

“Dam, ka-kamu baca tulisan di buku itu?” tanyaku gugup.

“Iya, sebenernya aku wis reti kok” jawabnya datar.

Terus karena guru datang ke kelas, semua itu terhenti. Aku udah kayak mati berdiri rasanya. Keringet dingin ngucur deres. Aku coba ajak Adam bercanda, tapi dia cuek aja. Sampe pulang sekolah, Adam gak nanya aku lagi, sepatah katapun.

Besoknya, aku coba ajak dia becanda, tapi kondisi kelas belum reda. Pas pulang, di parkiran dia nyapa aku lagi. Dia cuma bilang hati-hati sama ngingetin vcd pertepan yang aku pinjem. Setelah semua itu, dia gak pernah lagi ngomong sama aku. Dia terus menghindar kalau aku sapa. Bahkan buang muka waktu aku tatap.

Sampe lulus, dia gak pernah lagi gubris aku. Aku patung bagimu Dam? Sampe segitunya… Sakit Dam! Sakit!

Cinta pertama memang gak semuanya berakhir bahagia.  Bertepuk sebelah tangan juga bisa jadi opsinya. Ya kayak aku gini, bertepuk sebelah tangan, sebelum semua kuungkapkan, sebelum semuanya terucap dari bibirku.

Kadang suka nyesek kalau lagi dengerin lagu Peterpan atau Noah, apalagi lagu favoritku yang judulnya “Tak Bisakah”. Dasar nasib, lagu favorit justru berimbas pada realita cintaku yang pertama. Pengen rasanya aku curhat sama Albus Dumbledor buat ngambil semua ingatan diri dari kepalaku. Atau aku gabung sama Voldemort, jadi Deadeaters, biar kuhantui kamu selamanya.

#Suara_Hati
Kesel hatiku, sabar menanti. Ngempet sakit di hati. Cinta sama kamu, apa harus sesakit ini? Nangis batin sampe kayak gini? Mungkin ini jalannya, cintaku yang pertama yang kuharap akan bersemi, justru terkubur menjadi pupuk untuk masa nanti.





CHT & True Story of my Friend : Indomie Lovers

Author : -Maul-

Parkiran Cintamu

Aku tak pernah nyangka bakal kayak gini jadinya. Gapernah kepikiran juga bakalan sesakit ini. Ibarat perahu kecil yang  terseok-seok ombak badai, aku cuma bisa berlomba dengan waktu dan mencoba untuk tidak karam.

Aku mengenalnya secara biasa, media sosial dan segala tipu dayanya. Berawal dari ia menyapa, kemudian aku hanyut karenanya. Tadinya sih aku dingin dingin so cool gitu, tapi lama-lama kok keterusan juga. Yahoo Messenger yang jadi saksi, antara aku, kamu dan sakitnya dibohongi.

Kalian yang pernah merasakan sakitnya digantung, mungkin akan mengerti sesakit apa hatiku saat ini. Kalau diceritain mah sakitnya tuh kayak lagi asyik di pantai ramai yang mendadak sepi, kemudian tersapu ombak ke tepi, dan terseret ke tengah teluk tanpa ada kesempatan kembali.

Aku terlanjur terjerembab dalam rasa cinta yang meletup-letup layaknya merecon sunatan. Jengah aku dengan janjinya, namun hati ini terlalu tahan banting, atau mungkin cinta ini mengandung formalin, begitu utuh, tak kunjung membusuk.



Setiap malam kita Chit Chat, bahkan sering juga Video Callan. Tapi 6 bulan jalan kita berbagi kesenangan, dia mulai memudar dan kemudian menghilang. Resiko sih, kenal orang hanya lewat dunia maya yang terkenal fana. Aku keep Posthink aja, mungkin dia sibuk. Maklum, dianya itu anak Band gitu. Tapi kok lama-lama kangennya kerasa ya? Mungkin mulai dari sana, hatiku kesentil virus yang yang menyebabkan penyakit bernama ‘sindrom jatuh cinta’.

Aku di Tasik, dianya di Bandung, jarak kami gak jauh kok, cuma naik turun dan berkelok aja, persis kaya persaanku saat ini. Satu tahun gak kontekan, eh dia kembali datang. Padahal kukira dia sudah meminang anak orang. Antara marah, sebel, sama seneng jadi satu. Kecut-kecut sepet tapi manis gitu deh momentnya.

“Malem kamu…” sapa dia.

“Aku kira kamu udah lupa sama aku?” jawab aku.

“Mana bisa aku ngelupain orang sebaik kamu?” jawabnya bikin aku berharap lebih.

Senang bungah bagja sumringah. Aku pun melompat #hap loncat kegirangan, tapi kuterjatuh #gubrag dari kursi goyang. Iiiih, sebel! Manis di kata, pahit di realita… Dia pergi lagi, dan cukup lama. Dua kali lipat durasinya… 2 Tahun lamanya.

Menggantung asa pada tiang lapuk dan rapuh, cintaku hanya tinggal menunggu runtuh. Kucoba mencari tahu, bukan obat yang melegakan aku dapat, malah sebatang lidi yang memecut hati. Pantes aja dia menghilang, hatinya udah dicuri orang.

Sakitnya hatiku ini, mendengar kabar hatimu dicuri. Sebetulnya hati aku sakit, tapi aku mencoba seakan-akan gapapa. Rasa hati remuk gak karuan, teringat manisnya perhatianmu yang dulu kau curahkan. Terbakar rasa cinta, panasnya menyebak di dada.

Tapi dia malah datang lagi, ini yang membuatku bingung. Bingung menimbang, maka kuputuskan untuk  diam. Perhatian demi perhatian dia curahkan, meski aku tahu betul tak sedikitpun ada aku dihatinya. Aku mengalah demi pacar barumu, aku sendiri sedang engkau bercinta. Satu yang kuminta, jangan lupa bahagia.

Pas katanya ada Java Tour buat bandnya. Malam itu sebetulnya kuharap tak pernah terjadi. Dia menelponku melontar sejuta puji. Cinta yang ku kubur malah serasa dipupuk dan disirami, dan si tunas nakal malah mencuat sendiri.

“Aku kangen kamu”

“Ai kamu salah nelpon engga?”

“Engga kok, aku kangen kamu”.

Sandiwara apa lagi ini teh? Aku teh lelah, sumpah.

Dia curhat tentang kekasihnya, padaku yang tersiksa merindu dan berusaha menghapus rasaku padanya. Ketidakpekaannya itu amat menyiksa, aku tersenyum meski punggungku penuh luka. Kuberi kau petuah petuah manis, meski pahit di lidah. Kemudian kau kembali menghilang.

Selang 2 bulan, lagi-lagi kau datang. Sapa aku seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Kabar kau putus dengan pacarmu kembali menghipnotisku. Seperti dulu, kita dekat meski tak pernah rapat. Kita menyatu dalam dunia yang kita ciptakan.

Hingga kau datang sambangi aku, bagai ditimpa pohon kelapa beserta manggarnya. Bahagia kurasa cetar membahana. Kusiapkan senyum terindah, meski hanya untuk semangkuk baso dan beberapa jam saja.

Kemudian dia menghilang lagi 6 bulan lamanya. Namun kali ini aku tak sebal, aku mengerti karena dia sibuk dengan bandnya. Saat dia kembali menghubungi, kubulatkan hati ini.  Tekad yang kukumpulkan tak boleh disia-siakan, kunyatakan perasaan meski harus sakit mendengar jawaban.

“A, aku mau ngomong”

“Ngomong apa sih mi..”

“Sebenernya umi teh sayang sama Aa”

“Hahaha si umi bisaan ngehiburnya”

“Serius A, umi sayang Aa, Cinta Aa.. udah lama rasa ini teh, umi pendam”

“Makasih mi, kamu emang orang yang baik. Aa bahagia”.

Nembak malah dijawab makasih, kamu kuat jadi aku?

Gak mau menggantung diri sendiri, aku putuskan menjauh. Aku mundur perlahan demi kesembuhan hatiku. Aku mundur demi kita, agar tak lagi aku berharap pada fatamorgana yang menyeretku ke tengah gurun panas yang akan mengeringkanku.

Aku abaikan segala pesan dan telp darinya. Kemudian aku blok semua akunnya demi hati ini.

Tapi tanpa perasaan dia terus menerorku. Dia kirimi aku pesan berkata indah, memohon maaf dan mengukir janji. “Kangen” adalah senjatanya meluluhkan aku. Risih aku terus tertanggu, tak diberi waktu membuka lembar baru.

Terakhir kali dia janji tak akan pergi lagi. Namun nyatanya terbalik, hingga saat ini entah dimana kau dan janjimu itu.

Saat aku tunggu, kau menghilang
Tiba-tiba kamu datang tanpa permisi
Stop sayang, aku bukan terminal cintamu
Datang-pergi, parkir hati semau sendiri

Sudah cukup kau bohongi aku
Sudah cukup kau sakiti aku
Tak terasa menetes air mataku
Tak kukira kandas cintaku

Kau pikir hati ini Kos-kosan?
Datang-pergi untuk mainan?

True Story of : I.D.P – Tasikmalaya

Author : -Maul-


Special thanks to Ndx a.k.a for amazing lyrics

Momen Sakit Hati

Apa itu sakit hati?, ketika kita liat mantan jalan sama pacar baru kah?, ketika pacar kita selingkuh sama sahabat sendiri kah?, ketika inceran kita diambil orang lain?, jawabannya BUKAN! Sakit hati itu ialah saat lu marah, saat lu kesel, saat lu jengkel ngeliat orang yang lu sayang bahagia dengan orang lain, tapi tidak ketika dia sama lu.
Ini cerita true story gue dengan beberapa cewek yang pernah singgah dan menghiasi diri gue, tapi sekarang gue akan fokus pada 2 orang yang terakhir kali menghiasi hidup gue.
Mungkin ini cerita basi abis, mainstream parah, melankolis, dan sedikit kayak drama asia, but it is really happened and fuckin’ momentnya adalah gue yang  jadi bintang utamanya.
Semua berawal ketika gue terombang ambing ga jelas, setelah 5 bulan LDRan tiba-tiba gue diputusin secara sepihak, #gile aje… sepihak men… udah kayak surat pemecatan pegawe aje. Kampretnya lagi, tu cewek mutusin gue dengan alasan yang mainstream abis… you know what??? #Yap! AKU MAU FOKUS BELAJAR DULU dan 1 bulan setelah itu, dia balikan sama mantannya.. basi men! What a fuckin’ reason, kayak gak ada alasan laen yang lebih kejam apa?! #Lanjut… karena gue dalam masa labil, gue butuh seseorang buat curhat dong pastinya, sempet gue hubungin 2 mantan gue yang Alhamdulillah Wasyukurillah masih bisa maafin gue dan masih rajin kontekan sama gue sampe detik ini, ya meskipun pembahasan mereka adalah tentang pacar mereka sih.. nyari solusi gitu ngadepin problema sama COWOKnya.. #ehm.. skip yah.
Nah saat gue berkeluh kesah pada mantan-mantan gue, ada setitik sinar terang yang tiba- tiba datang membawa harapan akan kesembuhan hati yang terluka ini #ciyee… inceran gue sejak zaman jahiliyah dulu datang secara tiba-tiba dengan membawa madu manis untuk mengobati pahitnya sakit hati ini #eaa. Dia datang dan mebangkitin semua harapan yang pernah gua kubur dalam dalam… namanya sari (nama gue samarin biar aman :p), entah kenapa gue juga heran, dia itu ibarat daging ayam yang nyelip di gigi, bikin gak nyaman tapi kalo udah dicongkel, dibuang sayang. Dia itu emang salah satu wanita ter….. ah sudahlah.. biar kalian yang baca ini cerita aja yang nyimpulin… saat gue pacaran sama temen SD gue dulu, dia datang bawa harapan.. gue putus lalu dia ngilang.. #pakbich!, begitu juga waktu gue jadian sama temen SMP dia datang lagi dengan sejuta perhatian, membuat hubungan gue goyah, gue putus dan pakdemsit, dia ngilang dan malah jadian sama anak sekolah lain.. #shit man!. Gue bangkit, gue sempet deketin dia lagi waktu menjelang perpisahan, waktu itu gue kira it’s time for me to make her mine…. but yah.. she’s gone dan menghilang tanpa kabar… gue pun jadian sama orang lain… dan yah kayak yang gue ceritain diatas, gue diputusin dengan cara mainstream…
Baca Selengkapnya
Dan #eng #ing #eng secara mengejutkan, Sari datang dan lagi – lagi dengan membawa harapan, banyak yang bilang sebenernya gue aja kepedean bisa pdkt sama Sari, but this is life man… semuanya bisa terjadi… bahkan ada dongeng kodok aja bisa jadi pangeran.. maka dari itu why not gitu gue deketin dia? Salah gitu dia ngerespon dan sempet bilang pernah punya rasa sama gue?? #Haters gonna hate.  Dia dateng manis banget, perhatian.. ketika gue tanya apa rasa yang dulu masih ada,dia gak jawab.. Cuma setiap gue singgung tentang itu dia pasti Cuma senyum, senyum tulus atau modus tau deh gue gak bisa bedain. Yah adalah 3 bulan kontekan smsan tiap malam, walau pembahasan ga jauh dari “lagi apa?”, “udah makan?”, “udah ngantuk?” dan 10 menit kemudian kembali ke kalimat “lagi apa?” #hadeh, yaaa emang Cuma gitu sih dari dulu. Semakin hari Sari semakin buat gua yakin kalo dia kali ini bener-bener sama gue, sampe-sampe gue sempet blok akun fb dia #ngetes, dan dia marah besar… yes.. dari situ gue ngerti kalo Sari ternyata Stalking akun fb gue, disitu gue seneng banget, tapi ternyata beda sama dia… dia marah besar dan nganggep gue benci dia.. dan damn! Gue kehilangan kesempatan gue.. tapi emang bener Allah itu Maha Adil, Allah itu Maha Benar, beberapa hari berselang ada salah satu akun di friendlist fb gue update status yang berbunyi menyindir gue… dan dia bilang kalo untung aja Sari sekarang bahagia sama First Lovenya si Dian.. bahkan udah hampir setaun mereka CLBK… damn man! Kena lagi kan gue!
Berusaha lepas dari jebakan Sari itu gak gampang, siapa yang nyangka seorang primadona, seorang manusia berwujud bidadari, bersikap sebaik malaikat bisa juga mainin hati orang… kata orang gue kena karma, what? Karma? Jadul banget tuh yang bilang… Gue gak percaya sama karma atau apalah itu, yang gue yakin itu adalah Allah itu Maha Adil dan rencananya adalah yang terbaik #:).
Mencoba move on, gue mulai melirik cewek – cewek di sekitar kehidupan gue, emang ada sih 1 cewek yang bikin penasarang, bikin gue pengen kenal lebih deket, tapi masalahnya dia adalah adik kelas gue dulu. What’s the probem? Yah ada aja problem emang, dia itu statusnya masih anak sekolah di SMK tempat gue cari nafkah, what? Gue suka murid sendiri? Salah kah? Menyimpang kah? Gue kelainan kah? Gue pedofil? Ya enggak lah! Toh umur gue baru 20 dan doski umur 17, beda 3 tahun itu masih biasa kan? Inget kata pepatah, “CINTA ITU TIDAK MENGENAL USIA…” dan sedikit gue tambah “…SELAMA DIRASAKAN OLEH INSAN DENGAN KELAMIN YANG BERBEDA” #gitudeh. Yah sebut aja namanya Lia (nama samaran lagi), dia perhatian, baik, cantik dan satu hal yang bikin gue tertarik sama dia adalah dia berjilbab, tipe gue banget men… bahkan salah satu temen gue bilang kalo pilihan gue gak salah, tuhkan gue bilang! Tapi ada satu masalah, yaitu gue sama sekali gak tau perasaan dia ke gue gimana, #ehm… dengan bangga gue katakan kalo waktu itu dengan jelas gue amat sangat, KEPEDEAN.. #nah sekarang baru bener. Kata orang kepedean akan berujung kepada PHP yang menggila, rasa sakit yang berkali lipat dan malu yang amat sangat, but i take it easy.. ya iyalah gampang aja, orang itu siklus hidup kok, apa yang salah? Apa coba? Gak tau kan? Makanya…
Hari hari gue mulai kembali indah dengan segala perhatian dan respon yang Lia kasih ke gue, yah sedikit melambungkan hidung gue kelangit sih, tapi gue tau kok kalo perhatian dan respon yang dia kasih semata-mata perhatian ke sesama manusia, nothing spesial.. #hemm. Hari demi hari gue mulai berani nyinggung nyinggung soal pacar, dan sesuatu banget dia bilang dia gak mau pacaran, dia pengen laki laki yang serius yang bisa ngimamin dia, dengan kata lain dia gak nyari pacar, dia gak pengen pacar, dia gak butuh pacar, tapi dia butuh suami… calon lebih tepatnya… hem dewasa banget yah pemikirannya, religius lagi.. laki – laki brengsek pun pasti meleleh kalo ketemu tipe cewek kayak gini.
She’s smart, she’s beautiful, beuatifulnya gak sembarangan, bisa dibilang luar dalem deh. Dari dia gue belajar kalo ternyata hidup ini gak harus sesuai dengan apa yang kita harapkan, tapi harus sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan apa yang udah diatur sama Allah, #nice. Selebay itu kah gue menilai cewek – cewek? Maka dengan tegas gue bilang iya! Kalo gak ada mereka di dunia ini, gue mungkin masih mondar mandir di surga sana, tapi dalam bentuk roh yang gak punya nafsu dan perasaan, mungkin gue gak tau rasanya bahagia, sedih, kecewa, sakit, semangat, dan yang paling pasti pernah dialami semua makhluk normal di dunia, yap! Rasanya jatuh cinta.
Gue belajar banyak dari Lia, dia itu polos namun berpikir dewasa? Loh kok bisa? Gue juga heran. Lia itu anaknya lumayan polos, entah dia sadar atau engga, dia begitu polos ketika dia bilang bahwa saat ini lelaki yang ada di hidupnya bukan hanya gue, there’s someone else. Syok memang, kaget memang, panas memang, tapi kalimat selanjutnya  yang buat gue reda bahkan sedikit terharu, dia bilang kalo mungkin dia jahat, memberi 1 jalan untuk 2 insan yang ingin masuk ke hatinya, yah meski yang boleh masuk otomatis Cuma 1. Dia cari yang terbaik, karena dia gak mau asal pilih, dia gak hanya mengandalkan hati, dia takut buta, makanya dia selektif, bagi gue sih gak ada yang salah dengan itu, tau deh kalo yang satu lagi. Baru kali ini gue ngerasa takut kehilangan yang teramat dalam, namun di lain sisi gue juga takut kalo gue adalah pilihan yang salah. Yah kebanyakan pria yang sakit hati biasanya bisa bertingkah gila,cewek bisa memendam perasaanya dan melampiaskan semuanya dengan menangis, tapi gara gara air mata laki-laki itu terlalu mahal yah jadi kaum kami lebih suka bertingkah aneh bahkan kasar untuk melampiaskan rasa itu, jadi beruntunglah kalian cewek – cewek yang pernah ditangisin sama laki-laki, karena air mata laki-laki itu jujur dan mahal harganya #catet!.
Waktu itu gue sempet sakit, gue ambil cuti kerja dan istirahat di rumah, gue gak pernah nyangka sebelumnya, sampe gue grogi sendiri, sepulang sekolah Lia datang ke rumah, jenguk gue, terharu sih waktu itu tapi yah air mata gue mahal #hehehe. Gak banyak kata yang diucapin, gue pun sama, boro boro mau berkata, buat percaya dia ke rumah aja setengah mati susahnya, terus lagi gue natap wajahnya yang manis itu, aduuh meleleh deh gue jadinya #syalalala.
Setelah gue sembuh, suatu malam Lia sms gue, dia minta maaf karena tega jadiin gue kayak mainan dengan tidak menghapus laki-laki lain dari kehidupannya, berat sih memang, tapi apa mau dikata, dia itu terlalu indah untuk dikecewakan, gue Cuma bisa bilang kalo gue siap apapun resikonya, meski sebenarnya gue tau dari gelagatnya itu kalo dia udah memberi kesempatan buat yang satu itu melangkah beberapa langkah lebih jauh di depan gue, yah bisa dibilang dikasih kesempatan lebih, i still hanve a chance, but just a little chance, dan gue gak akan maksain keadaan,ya gue bilang aja kalo dia siap bicara, dan gue yang bukan orangya gue siap menghilang, atau tetap hadir sebagai sosok lain dihidupnya, as a bro, as a teacher of course, and as someone who her needed. Dan sekarang sih udah ketauan dari tensi perhatian dia yang mulai melemah, dari jumlah smsnya, dari ekspresi yang dia berikan. Secara enggak langsung dia udah kasih kode ke gue “Sorry, you’re not the one” yaa something like that lah… tapi anehnya ini pertama kali dalam hidup gue, gue rasain yang kayak gini, gue bisa melepas seorang yang gue suka dengan senyuman di wajah, impossible but really happened. Gak tau deh endingnya kayak gimana, apakah dia masih menghiasi cerita di kehidupan gue sebagai Lia, apa sebagai Lia lain yang memegang peran lain, yang jelas untuk sosok yang satu ini rasanya berat buat ngehapus dia dari kehidupan gue, meski kenyataaan pahit yang dia berikan, tapi gue anggap pahit ini selayaknya jamu yang berhasiat dan memicu kebangkitan gue.
Gue harap dia bahagia, apapun skenario yang udah Allah siapin buat gue dan dia, yang jelas gue harap itu yang terbaik dan kita bisa menjalani peran masing – masing. Dan sepertinya nama ini juga bakal jadi bagian sejarah yang sulit gue lupakan, kisah mainstream yang biasa banget and nothing specials yang merubah hidup gue, yaa meski gue ragu si Lia sadar atau engga kalau dia udah kasih gue banyak pelajaran. Thaks Sari, Thanks Lia, Kalian adalah pelajaran hidup yang bisa membuat gue bisa berpikir lebih dewasa dan belajar dari kesalahan… sejarah hidup ini pasti akan jadi salah satu bagian favorit dari berjuta kisah yang akan gue alami kelak, dan gue gak akan segan menyebut nama kalian berdua dan berbisik pada masa depan “HEI MASA DEPAN,TAHUKAH KAMU, TANPA MEREKA, AKU TIDAK AKAN BISA MENCAPAIMU DAN MEMBAHAGIAKANMU SEPERTI SEKARANG”.
#TAMAT
Namanya Langit
Dia yang setia menemaniku setiap aku memikirkanmu
Dia yang rela ku tatap ketika kau buatku senyum-senyum sendirian
Dia masih tetap di sana, tak berpindah, tak berubah meski dia tau setiap aku tersenyum menatapnya senyuman itu untukmu bukan untuknya
Dia setia menemani meski saat kupandang dia yang kulihat adalah bayang senyummu
Dia tetap tegar meski aku menatapnya ketika bahagia karenamu dan berpaling pada bumi ketika aku sedih karenamu

“Ketika kamu sangat-sangat mencintai seorang wanita, ketika ada seseorang yang mengasihinya, mencintainya. Maka kamu akan benar-benar mendoakan dia dari hati yang paling dalam” ~Ko – Theng~
*You Are The Apple Of My Life
Kab. Semarang, 12 Februari 2014
-Maul-

Cinta Gak Kesampean


Kisah ini jauh sebelum kisah cinta ngumpet-ngumpet gue terjadi, bisa dibilang ini cinta diawal masa. Waktu itu gue baru kelas 1 SMP, and for the first time i think i’m in love, sialnya gue baru sadar waktu gue udah SMK ah shit, seandainya dari dulu, mungkin kisah cinta gue ga sengenes ini kali ya. Pernah gak sih kalian rasain rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Sakit bukan? Tapi ini beda, ini kisah Cinta Gak Kesampean….
Inayah, gadis cantik yang pertama kali bikin jantung gue dag dig dug, bikin pengen natap wajahnya melulu, tapi 5 detik aja gue gak kuat dan gue hanya bisa senyum senyum sendiri kalo ingat semua tentang dia. Waktu itu gue lagi pembagian kelas murid baru, nama gue dipanggil dan gue masuk kelas 7-9, dan sialnya gue sendirian gak ada satu orang pun temen yang gue kenal, yaudah karena alesan gak ada yang kenal, gue milih duduk di belakang. Satu persatu murid masuk kelas, dari satu kelas anak yang masuk ruangan gue perhatiin cewek – cewek kelas ini rata – rata cakep dan bening #plak, sampe saat dia masuk, wow… gue sadar hampir semua anak laki-laki yang ada di kelas langsung ngeliatin dia. Dia  nyelonong masuk dengan tampang datar, tapi ajegile men pake tampang gitu doang aja gue udah melongo. Dia ternyata milih duduk di belakang juga tapi sebrang-sebrangan sama gue, #what a dream come true men *dance. Dan pas dia duduk, dia sempet ngelirik gue, sontak gue ngangguk aja #grogi men, eh Subhanallah banget men dia senyumin gue, #melayang jauh deh gue jadinya. Betapa senangnya gue saat itu, bayangin men I’m the first one who was saw her smile in class #bener gak yah bahasa inggrisnya gitu? Ah, skip.
read more
Gak pake lama, setelah semua anak masuk ke kelas, datanglah sang wali kelas, Namanya Pak Eka, dia ngajar Seni budaya, sedikit kecewa memang karena gue ngarepin wali kelas gue itu guru Matematika atau Fisika, biar kalo nilai jelek bisa dapet bonus ‘anak’ #haha. Waktu itu seperti yang sudah lumrah terjadi di semua sekolah, kita semua disuruh perkenalan diri di depan kelas, nothing spesial sih waktu itu, sampe waktunya si dia ini yang dapet giliran, deg degan gue jadinya, loh kok? Kan dia yang maju kok gue ikutan deg degan? Yaiyalah deg degan cause it’s time to know her name… waktunya gue tau namanya siapa, suaranya kayak gimana dan mungkin gue tau dia single atau engga, ah….. Dia  pun ngenalin diri, aduh nyesss abis gue… dia ngomong sambil senyum di depan kelas, dan ngelaitin arah belakang terus lagi, gue udah kepedean aja nih kalo dia liatin gue, taunya dia Cuma liatin tembok #towew. Dari situ gue tau namanya Inayah, dan suaranya itu loh, aduh lembut banget, sangat menggambarkan parasnya yang seperti bidadari.
Semua berjalan normal, going with the flow aja gitu, nothing special memang, kecuali kalo hari itu Inayah nyapa gue dengan unforgetable smile nya itu. Makin lama makin juga gue perhatiin dia, curi curi pandang gak kehitung deh rasanya, but ada sesuatu yang mengganggu gue, yaitu temen temen cowok yang dari gelagatnya sih juga menaruh perhatian lebih sama Inayah. Di kelas mulai mulai buat gue gak nyaman, banyak gosip aneh aneh, dan gue pun pernah jadi korban di gosipin, waktu itu gue digosipin suka sama si putri, cewek paling kece di kelas, emang sih dari segi fisik Putri sama Inayah menang si Putri kemana – mana, tapi gue gatau kenapa perhatian gue Cuma buat Inayah waktu itu, mungkin karena anaknya gak banyak tingkah dan nilai plusnya adalah dia berkerudung. Yang baru gue sadari setelah gue umur segini (20) adalah ternyata Inayah lah yang membuat gue lebih mengidamkan wanita yang berkerudung buat gue jadiin pendamping.
Makin hari makin banyak aja gangguan buat gue merhatiin inayah, dia mulai dikerubungi cowok – cowok lain dari teman seangkatan sampe kaka kelas. Gue minder setangah mati waktu itu, secara gue anak orang gak punya, jajan aja Cuma 2 rebu perak, sekolah antar jemput ojek langganan, kalo gak dijemput ya gue pulang jalan kaki #Kenangan yang indah :’). Hampir semua temen di kelas punya HP, dari yang hitam putih sampe keluaran terbaru, cuma 3 orang anak yang gak punya tu alat, salah satunya adalah gue.  Banyak temen sekelas yang nanyain nomer gue, maka dengan lembut gue jawab “sorry, gue belum punya hp” dan mereka pun berlalu gitu aja tanpa komentar. Banyak anak – anak cowok yang minta nomernya Inayah, sampe ada yang nekat minta foto bareng, walaupun hasilnya dalah sebuah penolakan secara halus yang mereka terima. Di situ gue tambah inign merhatiin Inayah, dia baik banget tapi dia juga punya prinsip dan harga diri, dia gak mau umbar kecantikkan dia. Inayah itu anaknya gak banyak tingkah, baik dan ramah, siapa coba yang gak tertarik minimal pengen temenan sama orang kayak gitu?.
Semester 1 berakhir, gue dinobatkan sebagai peringkat ke-4 dengan nilai terbaik di kelas, gue bisa sedikit berbangga hati karena gue rasa temen- temen di kelas banyak yang lebih layak dari gue. Inayah juga masuk 10 besar, dia peringkat 8 waktu itu #kalo gak salah. Di semester 2, Pak eka buat kebijakan baru di kelas, karena banyak anak laki – laki yang suka ribut dikelas, maka untuk 1 semester ini dia mengundi kami cewek – cowok sebangku, banyak yang seneng terutama pihak cowok soalnya kelas 7-9 terkenal dengan predikat sarangnya primadona kelas 7, ya bisa di bilang memang hamppir semua anak cewek di kelas ini cantik cantik, bahakan si putri di bilang paling cantik seangkatan, beruntung juga gue masuk ni kelas, gak suntuk suntuk amat #modus. Undian pun diadakan, ada yang seneng pas tau temen sebangkunya siapa, ada juga yang masang muka bete, pas waktu nama gue dipanggil, gue pun pindah tempat duduk, gue deg degan siapa yah yang bakal jadi temen sebangku gue, eh ternyata pas kertasnya diambil pak eka dengan lantang bilang “Inayah”, what? Siapa siapa? Gue gak mimpi kan?. Banyak banget anak putri yang protes ke Pak Eka, nada mereka semua hampir sama, katanya kita terlalu serasi buat duduk sebangku, bisa bisa cinta lokasi, gue Cuma bisa garuk – garuk kepala ngedenger protes mereka, pas gue lirik ke samping, Inayah nunduk suram gitu, tapi mukanya berubah merah, aduh manis banget… :3. Untung bagi gue, protes mereka gak digubris sama pak eka, Inayah juga udah bisa ngangkat kepala lagi, dia balas menatap gue dan tersenyum tanpa kata. Hari itu berlalu terlalu cepat, gak ada diantara kita berdua yang bicara sepatah katapun, yang kita lakuin Cuma ngelirik sesekali terus langsung buang muka.
Besoknya gunung es mulai mencair, gue coba cari – cari alesan buat bisa ngajak dia ngomong, meski Cuma “ada pr gak?, minjem tipe x dong?, eh itu pulpennya jatoh” ah… moment itu tuh yang bikin gue bego begoin diri sendiri haha. Lagi – lagi para cewek kecentilan kampret di kelas bikin gosip, katanya gue suka sama putri, ah sial banget tiap hari kalau gue di kelas dan jarak putri gak jauh dari gue pasti kita diciye ciyein, pas kita ada kerja kelompok dan gue sekelompok sama Putri pasti diciye ciyein, pas gue Cuma nyapa putri pasti di ciye ciyein, ah kampret, mereka ngabisin waktu yang harusnya gue pake untuk perhatiin Inayah. Baru 2 hari sebangku, gara gara banyak yang minta tuker bangku, jadi aja diundi ulang dan gue pisah sama Inayah, mana jauh banget lagi jarak bangku kita, ah shit men!. Gara – gara itu gue jadi jarang nyapa dia, jangankan ngajakin ngobrol, mau ngeliat dia agak lamaan aja susah. Mendekati kenaikan kelas, hati gue  masih belum berubah, tapi beda sama Inayah, dia mulai terbawa suasana kelas, mulai hobby becanda, mulai supel dan ngobrol lama sama anak cowok, bahkan mau diajak foto bareng, meskipun maunya kalo rame rame. Kemana nih Inayah yang dulu? Si manis yang penuh pendirian? Pikir gue. Ngeliat dia begitu gue pun berusaha menyesuaikan diri sama dia yang udah berubah, tapi ternyata jantung ini kekurangan tensinya, masih dag dig dug tapi gak sekuat dulu, kayak ada yang hilang dari hidup gue #:(.
Anak – anak kelas sebelah mulai rajin main ke kelas gue, beberapa diantara mereka bahkan pacaran entah cowoknya yang anak kelas sebelah ataupun ceweknya. Inayah juga mulai banyak yang deketin, karena dulu dia selalu menolak dengan halus jadi gue bisa agak tenang, tapi dengan Inayah yang sekarang gue boro – boro bisa tenang, dan sialnya lagi gosip gosip tentang gue sama cewek di kelas kembali menyebar, aduh damn men!. Sampe pada waktunya rasa ini makin pudar, gue jadi gak terlalu tertarik pada lawan jenis waktu itu, karena kebanyakan digosipin sama si anu atau gue ngejar si anu, lagi deket sama si anu atau apalah itu. Gue pun protes sama tukang tukang gosip itu sampe akhirnya gue mendapat predikat cowok terjutek dan tergalak di kelas.
1 bulan lagi kenaikan kelas, dan apa yang gue takutkan terjadi, banyak gosip yang beredar, soal Inayah yang udah jadian sama Ramlan anak 7-8, banyak yang bilang itu hoax, tapi banayk juga yang bilang sering liat mereka barengan ke kantin bahkan sering seangkot kalo pulang. Karena gue pulang naik ojeg maka gak mungkin gue bisa buktiin kalo mereka sering pulang seangkot, terus gue putuskan buat ngebuktiin dengan buntutin mereka kalo ke kantin, dan alamak… jleb jleb jleb… mereka beneran barengan, ngobrol sambil ketawa ketawa gitu, kayak orang pacaran gitu.
Demi mencari sebuah kepastian akhirnya gue tanyain aja sama Inayahnya, tapi dengan lagak sok becanda, secara Inayah yang sekarang gampang banget diajak becanda, beda banget sama dulu. Waktu pelajaran kosong gue deketin dia, waktu itu temen temen lagi becanda, dan ada anak yang manggil gue suruh ikut gabung yaudah gue gabung, di sela sela becandaan, gue mulai nyeletuk “eh, eh tau gak si lupada, Inayah kan digosipin jadian sama Ramlan” sontak langsung rame tuh anak anak, si Inayah Cuma senyum senyum aja, waduh beneran nih pikir gue, terus ada salah satu temen gue yang nyeletuk “duh, ada yang patah hati..” sontak kita ngakak semua, dia juga ikutan ketawa ketawa, terus gue lanjutin, “ah lu pada, mumpung anaknya ada di sini, tanyain aja langsung” rame lagi tuh sekelas, terus ada temen cewek yang to the point nanya dia, “bener in? Jawab dong, pajak jadian dong” tambah rame deh tuh kelas, gue bersyukur banget bisa sambil rame kayak gitu, jadi gue bisa manfaatin suasana itu  sebagai kamuflase gue yang sebernya broken heart. Gak lama setelah senyum senyum terus akhirnya inayah ngangguk pertanda jawabannya iya, pecah deh satu kelas, pada ngucapin selamet sama dia, termasuk gue ngucapin, tapi anehnya ketika gue yang ngucapin gaka raut wajah bahagia dari mukanya, mukanya langsung merah, terus nunduk dan bilang “makasih” pun hampir gak kedengaran.
Pulang sekolah, ojeg jemputan gue agak telat jadi gue nunggu aja, si Inayah sama Ramlan ternyata emang pulang bareng, waktu itu mereka gak liat gue karena rame banget. Pas oje gue datang, gue  pun pulang, eh gue gak nyangka bisa ngeliat dengan mata kepala sendiri si Inayah sama Ramlan ada di pinggir jalan sambil nunggu angkot (2x naik), kebetulan disana juga rame ada temen temen PMR sama anak sekelas, maka gue pun teriak, “duluan lur duluan” sambil ngelambai tangan, eh si Inayah yang sadar yang teriak gue langsung nunduk terus balik badan. Sejak saat itu, gue bertanya – tanya kok dia gitu yah? Apa marah ke gue? Apa gue punya utang ke dia? Gatau deh, yang jelas sejak saat itu gue udah gak perhatiin dia lagi, meski terkadang gue masih sering ngelirik lirik dia kalo papasan di kantin, dan gue pun menjalani 3 tahun masa SMP gue tanpa 1x pun merasakan indahnya pacaran, dan gak tau kenapa gak bisa juga gue ngerasa deg degan saat kenal cewek secantik apapun mereka. Yang jelas sekarang gue gak tau dimana Inayah sekarang, kayak gimana tampangnya, gue sama sekali gak tau. Tapi satu hal, dimana pun dia berada sekarang, gue harap dia baik baik aja dan bahagia, Terima kasih Inayah, kalo bukan karena kenal lu, gue gak mungkin bisa bedain mana cewek idaman gue. Thanks banget… gue bakal inget kisah cinta gak kesampean ini sebagai bagain dari sejarah hidup gue.
#TAMAT
Permata itu indah, itu sebab kenapa orang suka
Kilaunya hampir sama dengan kaca, tapi dia lebih istimewa
Setiap dia melekat pada suatu benda, pasti orang memilikinya dengan bangga
Jika dijadikan perhiasan, pasti dikenakan dengan mimik wajah bahagia
Sama seperti kau yang kusuka
Sama seperti kau yang biasa, tapi bagiku istimewa
Sama seperti kau saat tertawa, bagiku indah dunia
Sama seperti kau saat dimiliki, kupastikan pemilikmu bahagia…
Kab. Semarang, 14 Februari 2014
-Maul-

Bunga yang Mekar Setelah Hujan




Menitik beratkan pada kerinduan, bebannya tak seberapa berat dibanding perjuanganku menahan sesak saat salami kau di pelampinan bersama wanita lain. Tak mudah untuk membuang sisa kenangan yang membekas, ukiran permanen terlanjur terpampang, kalau di hancurkan, bisa ikut hatiku lebur bersamanya.

Kutatap halaman dari celah jendelaku, hujan sedang menari dengan anggun. Lenggoknya membawa butir-butir kenangan yang memudar. Desir angin yang masuk di celah ventilasi, menggelitik kulitku untuk mengingat dinginnya hari itu.

Sepulang dari pasar, hujan menghadang laju motornya. Tak ingin aku kebasahan, dia menepi di sebuah warung mie ayam. Digandengnya aku masuk, rambutku yang basah dipeganginya, hangat. Tangannya mengusapku manja, matanya memancarkan cinta dan kekhawatiran.

“Nduk, kamu gak papa? Dingin gak?”,

“Hm.. I-ya mas, lumayan dingin” jawabku malu-malu.

Perhatiannya hari itu sudah bagaikan selimut tebal berbulu, halus, nyaman dan tentunya menghangatkan. Warung mie ayam itu sangat ramai, namun dengan sigap dia menemukan celah untukku duduk. Dia berdiri sambil menghisap rokoknya, namun ia matikan sesaat setelah mendengar batuk keluar dari mulutku.

Mie ayam hari itu menjadi istimewa, berbumbu hujan dan cinta. Ah, kalau saja Tuhan tak menurunkan berkahNya, mungkin hari itu tak semanis ini. Hujan reda, dia mengajak aku pulang kemudian. Tanganku melingkar di pinggannya, punggungnya yang lebar dan nyaman itu masih teringat rasanya. Pipi ini memang manja, saat itu dia menempel erat di bajunya yang basah. Hingga terpaksa aku melepasnya, saat ia memberitahu bahwa kami sudah berada di depan rumah. Rasanya begitu singkat, belum puas aku dibuatnya.



Pertemuan kami memang tak sengaja, dan tak disangka kami akan jalan bersama. Diawali aku dan sepupuku membeli pulsa, dan rental PS di dekat sana. Lazim ketika seorang pelanggan menulis nomor HPnya sebagai catatan laporan yang sepenjaga. Hingga datang ia dengan SMS pertamanya.

Awalnya aku tak begitu niat meladeninya, namun kejujurannya membuatku tak sadar bahwa kami bertukar pesan setiap harinya. Dia mencatat nomorku dari Counter Pulsa itu, saat itu dia mengintipku dari jendela rental PS di sebelahnya. Dia ingin menyapa tapi segan, takut tak kurespon alasannya.

Kian lama, pesannya kiat hangat, sadar aku itu hanya siasat, namun tak apa, aku suka karena dia terbuka. Tak puas hanya lewat kata, dia mengajakku untuk bertatap muka. Masih ingat betul aku wajahnya yang memerah itu. Sesekali ia memalingkan muka ketika selesai bicara, biar tidak gerogi katanya. Sering bertemu dan saling melempar perhatian, akhirnya 2 hati bertambat bertautan.

Dia menyatakan cinta dengan terbata, aku menerima dengan senyum bahagia. Tatap mata kami beradu pandang, wajah kami perlahan mendekat. Napasnya mulai berat, wajahnya memerah, tapi dia pucat. Padahal aku sudah pasrah kalau dia ingin menciumku, namun urung ia perbuat. Dia tak senakal itu katanya, aku pun jadi malu sendiri mengingatnya.

Seiring waktu, hubungan kami kian dekat, kami berdua kian erat, rekat. Orang tua kami menyambut baik, hingga  1 tahun hubungan kami berjalan, rencana mulia mulai dibicarakan. Sepulang dari pasar kala itu, hujan kembali turun. Dia mampir ke rumahku, ingin pulang tapi aku larang, ibu dan bapaku juga paham, karena hujan lebat yang menghadang. Hingga dia pasrah saat bapak menyuruhnya menginap saja.

Saat Subuh kulihat wajahnya kusut, tak bisa tidur katanya. Wajar saja, mana ada yang bisa nyenyak tidur di samping calon bapak mertuanya. Dia di suruh menjadi imam namun menggelengkan kepala, belum cukup ilmu dalihnya. Namun bapakku sama kerasnya, akhirnya dia memimpin kami beribadah menghadap Sang Pencipta.

Keluarganya sangat menyayangiku, itu yang kurasakan dari perlakuan mereka. Seakan meraka sudah siap menerimaku sebagai menantunya. Berbunganya hati ini dengan segala wewangiannya. Ibunya sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Dia sangat senang kami dekat, bahkan keluarganya sudah bicara tentang masa depan dan macam macam kebahagiaannya nanti.
Dua bulan sudah dia jadi dingin, tak hangat lagi. Sunggih senyumnya nampak dipaksakan, kuminta antar ke pasarpun dia mengelak seribu alasan. Aku tak tahu apa yang terjadi, aku cuma bisa melamun di kamar, meratapi. Dia mulai membeku, tanpa kutahu apa salahku.

Padahal setahun kami merajut asa, bahtera hampir siap mengarung samudera. Tapi sang calon Nahkoda gundah, karena Kaptennya tak kunjung memberi perintah untuk kembangkan layarnya. Aku terombang ambing dalam gelisah, resah ini menenggelamkanku, apa gerangan yang terjadi padanya.

Sebagai wanita, kodratku hanya menunggu, jika tak kunjung datang niatnya, maka mahkotaku tak akan pernah kupakai. Semakin lama dia semakin dingin, kemudian kubertanya kenapa. Dia tak menjawab, malah marah dia tumpahkan. Aku terisak dalam tangis, sakit hati karena hati cintaku menghitam.

Aku pun mencurahkan semua isi hatiku pada kawanku, dia bilang pasrah saja. Dia menyarankanku untuk berpisah, dia bilang lelaki itu tak pantas untukku. Aku yang percaya menelan semua, rasanya cintaku telah berada di penghujung tiang pancung, siap diputuskan kapan saja.

Rupanya kawanku serigala berbulu domba, dia memegang kendali panggung sandiwara. Didekatinya kekasihku, dikatanya aku penipu. Cintaku berputar di telapak tangannya, tanpa sadar kami berdua jadi bonekanya. Awalnya aku masih tak percaya, kubela kawanku yang memang kupikir mengerti aku, namun semua berakhir kala suatu ketika…

Empat bulan sudah kami tak bertegur sapa, aku diterlantarkan tanpa kejelasan. Ingin kuminta akhiri saja semuanya, namun hati ini masih setengah menerima. Kulihat kasihku membonceng kawanku, dengan lengan melingkar di pinggangnya. Lututku lemas, pundakku tak kuat lagi menopang beban, suara retakan hati menggema telingaku.

Tapi entah kenapa air mata tak bisa menetes, sia sianya rasanya membuang air mata untuk ini semua. Ku paksakan untuk pulang, kukunci diri di kamarku dan terlelap perlahan. Baru saja kuhendak terseret ke alam mimpi, petir membangunkanku. Rupanya langit menggantikan aku, dia menangis dengan lantang. Teriakannya menggema, sedikit lega rasanya karena aku masih punya yang Maha Melihat dan Maha Bijaksana.

Hampir setahun sudah digantungnya aku. Dia dan kawanku semakin berani menebar kemesraan. Ibuku marah padaku, kenapa tak ada kabar bahwa kami telah pisahan. Kujawab datar bahwa aku tak diputusnya, Ibu memelukku sangat lama.

Kukunjungi rumahnya untuk ucapkan maaf dan salam perpisahan. Ibunya menangis pilu menatapku, berkali-kali ia ucapkan maaf. Ia panjatkan doa-doa mulia untukku, agar kebahagiaan menyertaiku. Sementara anaknya terlihat bahagia, pulang ke rumah menggandeng cinta barunya.

Terpaku ia membatu, kawanku hendak bicara namun terbata. Kuucapkan selamat padanya dengan berat hati, namun tetap kuusahakan senyum ini tetap menghiasi. Dia yang pengecut mendunduk malu, kemudian memanggilku setelah beberapa langkah aku menjauh.

“Nduk, mas bisa jelasin semua,”

“Cukup mas, aku cukup tahu dengan kelakuanmu dan Ana,”

“Tapi nduk, bukannya kamu?”

“Aku apa mas? Aku kenapa? Setahun aku menunggu kamu mas, tapi tak kunjung kamu datang. Setahun aku menggantung menanti kejelasan, tapi mas malah senang-senang sama sahabatku! Cukup sampai di sini mas, telan semua janjimu dulu beserta buala-bualan manis itu!”

Aku melawan kodratku, memutuskan tali kekang yang setahun membelenggu. Kukira akan terlontar maaf darinya, namun bukan maaf kudapat malah sepucuk surat undangan yang datang.

Dia menikah dengan Ana karibku, orang yang kucurhati sepanjang waktu. Orang yang memberiku saran untuk tetap kuat, untuk berpikir. Namun aku sudah mengakhir semua, jadi aku tak lagi mempersoalkan. Kuhadiri pesta itu dengan hati yang mengeras mengalahkan karang seorang diri. Orang tuaku tak sampai hati dan tak sudi untuk pergi.

Kusalami ia dengan senyum, tak lupa juga kudoakan dia bahagia dihadapan semua. Orang-orang menatapku, seorang menantu tak jadi yang menyalami calon mertuanya. Ibunya tak , kuat menahan tangis, berulang kali dia mengiba maafku.

“Maafin Feri Shin, Feri yang salah, Feri yang salah,”

“Gak ada yang salah bu, memang sudah jalannya begini,” ujarku

“Feri yang salah Shin, Feri yang salah,” ulangi ibu. Hingga akhirnya bapaknya berhasil menenangkan.

Bapak memegang pipiku, matanya merah seperti menahan tangis. Ditatapnya aku, dan kemudian pecahlah ia. Diusapnya kepalaku sambil memanjat doa mulia…

“Shinta jangan kapok main ke rumah, jenguk bapak sama ibu ya. Shinta hebat, Shinta kuat, Shinta sudah menjadi wanita mulia, Shinta pasti bahagia. Shinta masih tetap akan jadi anak bapak sama ibu, salamin sama orang tuamu yah” katanya.

Aku hanya bisa mengamini, air mataku menetes perlahan meski senyumku tetap kupertahankan. Hingga pulangnya aku, dan menangis keras dalam kamar.

Beruntung ada mas Rama yang membangkitkan aku. Kakak kelas ku zaman sekolah dulu ini dengan sabar menyembuhkanku, dan kemudian meminangku. Kami hidup sangat bahagia, ditambah lagi kami dikaruniai seorang putri yang lucu.

Hujan mulai mereda, tak sadar aku melamun mengenang masa lalu. Mas Rama yang membuyarkan lamunanku. Menyadarkanku bahwa cinta sejatiku sedang duduk di sampingku sambil membaca buku. Ku peluk lengannya dan kusandarkan pipiku dipundaknya.

“Kebiasaan deh, giliran papa nganggur di diemin. Giliran papa baca buku kamu nyender,” Protesnya.

“Gapapa dong pa, abis pundak sama punggung papa nyaman sih,” pungkasku.

“Mau baca juga?” tawarnya.

“Emang buku apa?” tanyaku.

“Novel, bagus, baca deh” sarannya.

“Aku maunya dibacain,” jawabku manja.

“Hish dasar, sini” kata ia mencolek hidungku.

“Yeey” sambutku gembira sambil merebahkan diri di sopa dan menjadikan paha suamiku sebagai bantalnya.

Tanpa sadar aku tertidur, sadar aku sudah berada di kamar berbalut selimut dengan mas Rama memelukku mesra.

“Seperti bunga yang mekar sesaat setelah diterpa hujan, butir air sisa hujan menempel padaku dan menambah keindahan”.

Terinspirasi dari kisah kawanku ******


Author : -Maul-