Tampilkan postingan dengan label True Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label True Story. Tampilkan semua postingan

Manis - Pahit Cinta Pertama

Kau hancurkan hatiku hancurkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuh melihatmu

Ngederin lagu itu diputar di sudut café, aku sih cuek-cuek aja. Lagunya enak kok, apalagi dari band favoritku. Tapi kooook…

#Suara_Hati
Hiks, Hiks, Hiks, untukmu sang cinta pertama, tahu gak? Nyesek ini masih belum ilang dari dada. Semua yang terkubur menyeruak saat teringat sikap dinginmu dulu, yang berbanding terbalik  sama senyum manismu tempo hari, saat engkau menggandeng seorang wanita yang kemudian  kau kenalkan padaku sebagai seorang calon istri.

…biasa aja, bener kok biasa aja. Ini buktinya aku senyum kan, kan akunya udah mup on, beneran deh.. seriuuus.

Kadang nostalgia tak seindah kata mereka, buktinya punya ku enggak indah kok, malah rada-rada pait gitu. Masa SMP adalah masa indah yang penuh kenangan manis, soalnya saat itulah aku pertama kali merasa indahnya jatuh cinta. Namanya juga ABG, dimabuk asmara itu udah kayak surga dunia.

Mau makan, ingat dia. Mau tidur, ingat dia. Mau ke kelas, sempetin ngelirik dia. Udah di kelas curi-curi pandang  ke dia. Giliran mata kita beradu, langsung buang muka, malu malu keong gitu deh. *hihi *indahnya. :3

Awalnya aku tuh gak pernah kepikiran bakal suka sama dia. Di otakku itu cuma ada jajan, makanan pedes dan indomie aja. Kelas satu kita sekelas, kelas dua kita beda kelas, nah di situ kita mulai rasa ada yang hilang,kangen-kangen gimanaaa gitu, eits.. tapi waktu itu aku belum suka kok sama dia.


#Suara_Hati
Dear cintaku yang pertama. Aku bohong kok, aku suka kamu dari kelas 1, aku cuma ga berani aja. Habisnya…  kamu tuh yaa, udah ganteeeng, ramaaah, kalem, lucuu, imuut, gemesiin, nyebeliin, dingiin, maniis, uuuuunch. Liat kamu senyum aja aku hampir meleleh, apalagi ngobrol sama kamu.. bisa-bisa aku beneran cair…kamuuu,  iyaa kamuuu #plak!

Gak, gak! Gak gitu ish! Apaan sih ini pake suara hati segala? Kan..kan.. aku jadi maluuu…
Gak kok, beneraan!  Aku tuh waktu kelas satu cuma kaguma aja, belum ke tahap suka kok, ciyus.

Nah, pas kelas 3 nih, kita sekelas lagi. Dia duduk di belakang aku, dan akhirnya semuanya mengalir begitu aja. Awalnya aku basa basi tanya PR, dia jawab pake becanda. Sampe akhirnya tiada hari tanpa becanda sama dia. Pokoknya kita udah lengket kaya amplop sama uangnya.

Saking akrabnya, kita udah saling terbuka, saling tukar info tentang hobi dan hal-hal favorit. Eh ternyata kita banyak kesamaan, aku suka harpot - kamu juga, aku suka peterpan – kamu juga, aku suka indomie – kamu juga, aku suka kamu – kamu ju.. *some text missing*

Aku gak ngekhayal kok, beneran. Apasalah aku berharap? Tapi aku kan cewe, masa aku nembak duluan?


#Suara_Hati
Andai aku sebagai wanita tak punya batasan, sudah kupeluk engkau dan nyatakan cintaku. Namun ungguk merindukan bulan, aku cuma bisa nunggu kamu peka. Aku nunggu kamu rasakan dahsyatnya detak jantung ini, aku nunggu kamu tahu rasanya terenyuh cemburu saat kamu minjemin pensil sama cewek lain sambil nunjukin senyum manismu itu. Aku nunggu kamu suka sama aku.

Karena gak mungkin, akhirnya aku nulis semuanya curahan hati ini di buku tulisku. Sampai semester satu berlalu, aku masih terpaku sama kamu. Tapi dasar kamunya oon atau pura-pura gak tahu, setiap hari perhatian tapi gak pernah terucap, “Yuk kita jadian”. Aku tuh nunggu mas, nunggu.

Setiap habis ulangan semester, sekolah selalu ngadain lomba-lomba antar kelas. Aku diutus untuk ikut lomba gambar, awalnya aku nolak dengan keras, namun hati ini luluh saat kamu bilang…

“Ayo, maju aja, aku yakin kamu bisa”.

Gimana hatiku gak lunak? Kalau yang dukungnya kamu… iyaaa, kamu.

Akhirnya aku ikutan lomba, set sat set kelar juga. Aku dijemput temen semejaku, katanya si dia lagi tanding basket, gitu. Sontak aku semangat 45, capcus ke lapangan, ekh taunya cewek-cewek pada rame kalau dia lagi pegang bola, nyesek sih, ternyata rivalku banyak juga. Meskipun ujungnya kalah, tapi dia tetep pemenang…. di hati aku. *shy *gigitsepatu

Dari sekian banyak cewek yang nonton, selesai tanding dia malah lari nyamperin aku. Dia tanya-tanya tentang lombaku, dan dia doain aku menang. Abis itu dia minta minumku, meski bekas dia gak peduli.

#Suara_Hati
Dear Mase yang tak kunjung peka, gimana aku gak salah paham kalau kamunya gini terus. Mau dibawa hubungan kita mas, mau dibawa kemanaa?

Selesai perlombaan, semua berlalu gitu aja. Gak ada yang istimewa, karena kami terpisah jarak karena libur satu minggu.

Upacara bendera pagi itu, menjadi pertanda kalau semester dua udah dimulai. Di akhir upacara, ada acara pembagian hadiah lomba. Enggak ada yang nyangka, kalau aku bakal jadi juara satu lomba menggambar. Aku yang juara, kamunya yang jingkrak kegirangan. Sambil megang pundakku, kamu dorong-dorong aku kedepan sambil bilang, “Maju ca, maju”.

Aku maju ke depan, terima hadiah, dan difoto bareng guru dan kepsek. Pas aku balik ke barisan, kamu nyambut aku sambil lambai-lambai tangan. “Yeee, salemat ya ica, aku seeneeeng banget”, hey mas, masih inget gak kamu bilang gitu waktu itu? Sampe semua orang disekitar liatin kita. *aku kan maluuu *shy #plak!

#Suara_Hati
Tembak aku mas, tembak, tembak aku pls. Kamu loh mas, kamu… iya itu kamu yang suka bikin salah tingkah, tembak aku mas, sekarang!
 

Sampe upacara selesai, gak terjadi apa-apa lagi. Dia balik ke kelas, aku ke ruang guru buat ambil hadiah beasiswaku.

Hati rada dak dik duk waktu itu, entah kenapa kaki ini rasanya berat banget. Perasaan gelisah dan males ke kelas tiba-tiba ada. Aku tetep maksain jalan ke kelas, dan ketika baru buka pintu…

#Suara_Hati
OMG! Iki Opo? Kok semua liatin aku sih?

“Ciyeeeeeeeee, Ica lope lope sama adam! Ciyee Adam lope Ica, ciyeee… tembak-tembak-tembak.”

Satu kelas heboh, dan temen semejaku lagi cekikikan di samping Adam yang mukanya merah padam.

“Tembak dam, jadiin dam! Tembak!” teriak temen-temen.

“Dam, ka-kamu baca tulisan di buku itu?” tanyaku gugup.

“Iya, sebenernya aku wis reti kok” jawabnya datar.

Terus karena guru datang ke kelas, semua itu terhenti. Aku udah kayak mati berdiri rasanya. Keringet dingin ngucur deres. Aku coba ajak Adam bercanda, tapi dia cuek aja. Sampe pulang sekolah, Adam gak nanya aku lagi, sepatah katapun.

Besoknya, aku coba ajak dia becanda, tapi kondisi kelas belum reda. Pas pulang, di parkiran dia nyapa aku lagi. Dia cuma bilang hati-hati sama ngingetin vcd pertepan yang aku pinjem. Setelah semua itu, dia gak pernah lagi ngomong sama aku. Dia terus menghindar kalau aku sapa. Bahkan buang muka waktu aku tatap.

Sampe lulus, dia gak pernah lagi gubris aku. Aku patung bagimu Dam? Sampe segitunya… Sakit Dam! Sakit!

Cinta pertama memang gak semuanya berakhir bahagia.  Bertepuk sebelah tangan juga bisa jadi opsinya. Ya kayak aku gini, bertepuk sebelah tangan, sebelum semua kuungkapkan, sebelum semuanya terucap dari bibirku.

Kadang suka nyesek kalau lagi dengerin lagu Peterpan atau Noah, apalagi lagu favoritku yang judulnya “Tak Bisakah”. Dasar nasib, lagu favorit justru berimbas pada realita cintaku yang pertama. Pengen rasanya aku curhat sama Albus Dumbledor buat ngambil semua ingatan diri dari kepalaku. Atau aku gabung sama Voldemort, jadi Deadeaters, biar kuhantui kamu selamanya.

#Suara_Hati
Kesel hatiku, sabar menanti. Ngempet sakit di hati. Cinta sama kamu, apa harus sesakit ini? Nangis batin sampe kayak gini? Mungkin ini jalannya, cintaku yang pertama yang kuharap akan bersemi, justru terkubur menjadi pupuk untuk masa nanti.





CHT & True Story of my Friend : Indomie Lovers

Author : -Maul-

Fandom Wanpis Riwayatmu Kini…



Yo Omera!

Maul Desuwa~ #Plak!

Butthurt Reminder :

Ini adalah tulisan dengan landasan 100% kesoktahuan Maul. Gue nulis ini dengan pikiran jernih, tanpa bermaksud memojokan dan atau menjelek-jelekkan pihak manapun. Apabila ada yang Triggered dan kemudian merasa terlepatuque, Maul mohon maaf.

Oke, Here We GO!

Gue tahu One Piece sejak SD, tepatnya melalui Animenya yang tayang di TV Swasta Nasional. Kenal manganya dari penyewaaan di depan sekolah-sekolah SD namun saat itu gue belom terlalu paham isinya. Kemudian SMP gue juga didoktrin untuk membaca Bleach dan Naruto oleh teman, sempat enjoy ke 3 judul itu, sampe akhirnya Lulus SMK dan gue putuskan fokus di One Piece.

Gue sendiri mengamati dunia Oplover Indonesia sejak 2010/2011 di salah satu sub forum yang ada di kaskus. Hingga 2014 gua putuskan untuk beralih ke facebook. Dan betul kata pepatah, dunia ini keras!

Bicara soal one piece, maka kita bicara soal 3 hal… Cerita, Teori dan Fansnya. Jujur, gue gak tau bagaimana fans manga lain memperlakukan manga kesayangannya. Tapi dalam dunia fandom One Piece, teori dan prediksi tentang alur cerita ke depannya adalah salah satu kesatuan erat yang sukar untuk dilepaskan.

Tapi gue di sini akan fokus menyorot kelakuan fansnya dari 2011 – Sekarang dari sudut pandang picik gue pribadi.

Era Dulu (2011 – 2014)


Dahulu kala, para Theorys saling berbagi opini dan ilmu pengetahuan. Dimana cocoklogi sejarah, sains, dan kisah-kisah mitologi bercampur jadi acuan. Mereka berlomba dalam karya, saling mengaitkan panel demi panel yang mengandung hint. Para Fans akan berdecak kagum dan saling sanggah. Gontok-gontokan opini yang tumpang tindih, bercanda ditengah debat panas adalah sensasi tersendiri.

Era ini sangat amat asyik, kaskus penuh banget saat itu. Gue sebetulnya ada keinginan maen ke forum luar seperti Arlongpark, tapi apalah dayaku yang level English nya terjerembab.

Menghasilkan beberapa teori terkenal, dan juga theorist terkenal tentunya.

Salah satu yang membuat kagum dan menghebohkan jagat kaskus kala itu adalah teori dari RokushikiMaster tentang Terbentuknya All Blue, yang kemudian disulap judulnya jadi “Teori Ending One Piece yang Paling Masuk Akal” *CMIIW

Karena gue masuk fandom OP di facebook sekitar 2014an, gue gak terlalu ngerti kondisinya, tapi kalau dilihat dari arsip-arsip grup-grup besar yang di “up” oleh beberapa member, kesayikannya gak kalah sama kaskus.  Malahan lebih senang di Fb karena lebih cepat dan lebih efisien.

Bayangin aja 1 pembahasan seorang Theorist akan digodong puluhan orang dengan tanpa adanya 1 pun Junk Post. Tidak ada kesan apatis, anarkis, ataupun terjadi pembulian. Sistemnya sederhana namun sedap dipandang, debat sehat mengalir dimana yang opininya bolong tidak sakit pantat ketika di sanggah.

Komen dalam satu Thread bisa mencapai 200 – 1000 comment, dan kala itu Fb belum memaksimalkan fitur Reply Commet, sehingga pembahasan mengalir lurus tidak bercabang.

Punya opini – disanggah – pembelaan – disanggah – pembelaan – dipatahkan – paham – kesimpulan –
done!
Saat itu para pecinta Anime OP pun akan sangat siap menerima kritikan. Jalan pikiran mereka sangat pengertian, dan juga tidak mudah sakit pantat. Mereka akan dengan senang hati jika diberitahu bahwa bagian anime yang dimaksud tidak ada di manga alias non canon. Mereka juga tidak segan bertanya, perbedaan Anime dan Manga untuk setiap episodenya dan tidak mudah menarik kesimpulan dan membuat OPINI CERDAS dengan mengabaikan FAKTA.

Invasi Rage Comic dan Me-Me di pertengahan 2011 juga menjadi salah satu racun yang kemudian menjangkit pola pikir para animanga lover. Diawali dengan bercanda dan joke-joke ringan, namun kemudian melenceng jauh pada awal 2014 hingga menjadi forum arogan dengan joke-joke pedas syarat sarkasme dan (maaf) ketidaksopanan.

Nah di pertengahan 2014 inilah NEGARA API MENYERANG.



(2014 – 2016)


Dengan tamatnya Naruto, yang kemudian diberitakan di media-media nasional karena salah satu TV Swasta kita menayangkan animenya. Perhatian orang Indonesia terhadap dunia animanga membludak. Penasaran dengan ending ceritanya, semua orang berlomba-lomba mencari scanlasi illegal. Situs-situs penyedia layanan baca komik scanlasi pun kebanjiran pengunjung.

Dari sanalah kemudian Nama One Piece diagungkan. Sebagai Manga keren yang tidak kalah bagus dari Naruto tentunya. Jujur, meskipun saya merasa akan ada yang sakit pantat membacanya, kebanyakan orang Indonesia yang baru mengenal One Piece tidak akan tahu seberapa bagusnya manga ini.

Di latar belakangi Animenya disiarkan TV Nasional, nama Naruto memang lebih menjulang tinggi dari rating global penonton Indonesia. One Piece sendiri juga pernah tayang, namun entah kenapa dihentikan penayangannya. Kemudian diketahui, bahwa memang One Piece kurang cocok ditayangkan di Indonesia karena konten sensor dan lain sebagainya.

Invasi besar-besaran kemudian terjadi, namun anehnya bukan lari ke manga, kebanyakan orang Indonesia beralih ke anime One Piece. Terlalu banyaknya perubahan storyboard yang dirubah TOEI dan juga Episode Filler yang kemudian merubah pola pikir para anime lover kemudian menjadi penyakit tersendiri.

Meme dan Rage Comic yang melenceng penggunaannya pun turut ambil peran. Dimana akhirnya Fandom mulai meninggalkan format tulisan dan beralih ke Meme.



Mencuri FanArt orang dari deviantart atau pinterest jadi pilihan utama, kemudian bermodal pengetahuan sotosop seadanya mereka menambah caption-caption dari fact hingga hoax untuk meningkatkan jumlah likers.

Share ulang Manga dan Anime pun jadi pilihan alternatif, ketimbang menyebar dan mencari info berita, mereka lebih memilih jalan termudah. Ketika salah satu fandom mempost berita, maka copas membabi buta akan terjadi, dengan tradisi tentunya MELUPAKAN CREDIT DAN IZIN.

Orang lain udah capek translate Jepang – English, English – Indonesia. Postnya malah dicopy seenak udelnya, dan tanpa mencantumkan sumber atau credit apapun. Lebih parah saat mengklaim teori dan fanart orang lain sebagai milik fandom mereka.

DI SINILAH ERA NGARTIS DI MULAI.


Menebar click bait dengan sensasi-sensasi, caper dan lain-lain. Apalagi setelah berkibarnya fandom-fandom di INSTAGRAM yang kebanyakan dari mereka tidak bisa membedakan mana fanart mana official.

Dengan pensiunnya para Theorist lawas, terjadi kekosongan dari dunia fandom. Ini yang menjadi celah dibangunnya fandom-fandom baru yang mengedepankan kekinian dan yim yam. Hell yeah, coeg syekaliiii

Kesesatan dari Anime Lover kemudian menarik perhatian orang-orang untuk membuat Sekte-sekte sesat yang menggiring OPINI PUBLIK yang kemudian menendang jauh-jauh fakta-fakta dan mengabaikan berita terbaru.
Semua berlalu begitu saja.. just like MAAF YA MAS, INI OPINI CERDAS SAYA, KITA KESAMPINGKAN DULU FAKTANYA, MUNGKIN OPINI SAYA BISA DIPERTIMBANKAN.

Ketika terpojok, para penebar kesesatan akan dengan licinnya berkilah : MIMPI ITU TIADA AKHIR, TIADA BATASAN UNTUK OPINI, IMAJINASI ITU GAK BOLEH DIBATASI BRO.

Atau kalimat Sakti : KITA KEMBALIKAN SAJA SAMA PAK ODA, KITA LIHAT AJA NANTINYA GIMANA.

Kemudian setelah terpatah dan terbantahkan mereka akan “Hello Fellas, Supp? Kangen Gue? Hahaha” alias gatau malu :v

X : “Brooo, namanya juga perubahan zaman, nikmati aja”

Gak gitu juga, STOP MAKE STUPID PEOPLE FAMOUS!

Ada 2 tipe orang : Dibully Tobat dan Minta Dibully.

Ada 2 tipe rusuh : Bully karena membenarkan dan Bully karenan menyenangkan.


Pada bagian terakhir kesotoyan ini.. izinkan gue untuk sedikit menyengat.

Penggiringan Opini Publik saat ini yang marak terjadi dan memicu debat kusir adalah beberapa hal sebagao berikut


SEKTE DEWA ENEL YANG MAHA KUASA



Sekte ini lahir dari para pencinta sang DFU Logia petir ini. Semua bermula saat dijelaskan bahwa jika dia berlayar di Blue Sea harga buronannya itu sekitar 500.000.000 Berry.

Bermodal dari hal tersebut pencinta Enel mulai marak menjajal kesaktian Dewa mereka. Dengan menaruh Opini “Jika BTS aja Enel segitu, berarti ATS Enel lebih kuat”.

Kemudian muncul opini publik yang sebetulnya sah-sah saja namun selalu saja disampaikan dengan cara yang salah seperti : ENEL IS STRONGER THAN YONKO, ENEL IS AS STRONG AS YONKO, ENEL CAN WIN MARINEFORD WAR WITH ONE HIT! ENEL CAN DEFEATED SENGOKU! ENEL CAN BECOME A PIRATE KING WITHOUT ANY TROUBLE!

Dan ketika ada yang membeberkan Fakta dan sedikit cocoklogi untuk menyanggah. Meraka sakit pantat seakan tak terima, WTF! Enel sudah seperti Agama today.


SEKTE USTAD INSTAN DAN DEWA ODA



Did You Know? Oda sering melakukan kesalahan pada manga Mingguan di WSJ.

X : Sok tahu lu! Pak Oda itu gak pernah salah! Itu sengaja dibuat gitu!

X : Mungkin ada hint di sana bro, blablabla hingga cokelat menghujani ladang gandum dan jadilah COCO CR*NCH!

Ketika ada seorang yang kritis, melihat kekeliruan dalam gambar atau kalimat, dan berbagi hal tersebut. Mereka biasanya mendadak jadi ustad dan jadi pengacara yang melawan jaksa dan membela Oda seakan Clientnya.

Bagus sih, tapi as Lord Patrick Star Said “Pemujaan Berlebihan Itu Tidak Sehat”.

Miris adalah ketika para fans yang hanya berbagi pengelihatan mereka justru diberi respon yang..

X : “Bikin Manga Sendiri! Hargai Karya Orang!

Padahal di lain Thread orang yang sama bilang :

X : “Hahaha Makanya jangan sok tahu, Newbie memaksakan diri, Coeg :v”

Ini yang kemudian aku sebut Sindrom Ngustad.


SEKTE “SAYA NEWBIE MAS”


Sekte ini yang paling berbahaya. Mereka yang selalu merendah untuk meninggi. Kata newbie adalah tameng untuk melindungi diri, padahal dia sering komentar bernada offensive opini orang lain, dan ketika dicounter balik sama TS nya, mereka akan mengelak :

X :“MAAF SAYA NEWBIE”

Mengakui kesalahan? Bukan! Mereka akan terus mengulanginya. Terkadang mereka hanya ingin bermain-main dengan emosi TS hingga akhirnya TS blunder dengan statementnya karena kesal. Kemudian mereka akan jadikan itu sebagai bahan Bully untuk meneror TS hingga moderator / admin terpaksa menutup Thread.

Yang mengerikan adalah, mereka ini adalah yang sering sok-sok bertanya dan “ngetes” pengetahuan TS sehingga membagi arah chat ke dua arah, dan keasyikan diskusipun turun drastis dibuatnya.


BULLYWORKS


No Comment untuk yang satu ini, ini adalah sekte global yang bisa ditemukan di penjuru dunia manapun. Bukan hanya manusia, prilaku bully juga dilakukan oleh hewan.

Tidak ada yang bisa dilakukan, kecuali banned.


ERA REGIONAL (2016 - SEKARANG)



Lu bukan fans op kalau gak punya baju OP.
Lu bukan fans op kalau gak pamer AF KW.
Lu bukan fans op kalau gak saling pamer koleksi anime.
Lu bukan fans op kalau gak meet up, have fun bareng kita.

Era Ngartis dan Narsisme emang susah buat diilangin. Apalagi dari Socmed Instagram dan Media Chat seperti Line.

Dipicu dari kami para panitia NOBAR OPFG yang kabar-kabar di socmed. Bludaknya minat dan antusiasme oplovers Indo menjadi memontum terciptanya komunitas-komunitas kecil di daerah masing-masing. Bahkan ada yang berniat menaungi mereka rumah dengan embel-embel “INDONESIA” dan “PUSAT”.

Hal ini sangat positif, karena berkumpul sesame fans adalah hal yang mudah ditemui dimana pun. Namun beberapa orang menurutku terlalu berlebihan. I would love to say “it’s a ngartis era”, faktor kekinian kemudian jadi selimut perkumpulan ini. Melakukan berabagai kegiatan meet up dan share kegiatan mereka lewat social media seperti Instagram.

Namun, sedikit kecewa aku ketika menengok akunnya…

Kebanyakan adalah foto anggota dengan berbagai gaya, menggunakan baju bertema OP. Lalu jajaran AF dan Komik yang sengaja dipamerkan. Kucari berita, info, atau sesuatu yang bersifat tentang isi Manga, Anime dll dan akhirnya menemukan LIST ULTAH KARAKTER DAN BROADCAST UPDATE ANIME DAN MANGA. Selebihnya, mereka tidak share apa-apalagi.

Kebanyakan juga share fanart orang tanpa credit maker/link sumber. Diberi hastag bejubel dan caption menggelikan.

Ya bukan masalah, tapi rasanya agak janggal ketika kita menggunakan kata ONE PIECE sendiri tapi isi dari akun socmed yang bertema OP itu justru hanay mengandung 20-30% saja hal tentang OP.

Kebanyakan adalah Kegiatan dan Kegaitan. Emang kegiatan situ official shueisha atau OP? Emang OP itu kegiatan kalian?

X : Kan meet up juga bahas OP!

Maul : 80% tetep narsis dan oot kan?
X : Maul Hate Speech Nih!
Maul : Yes Of Course, COZ I’M HATER.

Semoga semua mau memperbaiki diri. Bukan Gue sok mastah atau sok paling tahu, tapi jujur banyak akun fandom OP yang masih nanya :

X : “SBS ITU APA?”

Atau copas info dari orang dan ketika di tanya sumbernya…

X : “Adalah forum luar, kalian gak akan paham”

Padahal dia aja keliru kasih sumber… dan copas translatan orang lain.

Aku lihat 10 – 20 Fandom berbeda akan Share Reviewnya RokushikiMaster, Tonyohoho atau Oikgerd setiap minggu rilis manga.

Inilah yang gue benci, ketika orientasi mendirikan fandom hanya untuk likers dan followers maka kita akan terjebak dalam kesesatan dan info-info gak jelas yang gak bisa di explain sama admin mastahnya itu.

X : Eh, di kota lu udah ada komut belom?
Y: ada!
X : Eh, bikin aliansi sama komut gua yok!
Y : Sorry kita gak gitu!
X : Oke!

========

X : Oy W, lu di kota A kan? 
W : Ya! 
X : Bikin Komut OP dong dikota lu ntar gua bantu adminnya!
W : Udah ada!
X : Alah, bikin baru aja, yang itu gak asik!

Dan TARAAAA…. lahirlah ratusan REGIONAL INSTAN…

======

Note : Maaf untuk yang sakit pantat.

Mungkin segini udah cukup mewakili emosi gue yang satu ini. So? Bijak-bijaklah kalian memilih pedoman. Jumlah Follower Fandom tidak selalu menjamin kualitas adminnya!

Thanks,
-Maul-


Parkiran Cintamu

Aku tak pernah nyangka bakal kayak gini jadinya. Gapernah kepikiran juga bakalan sesakit ini. Ibarat perahu kecil yang  terseok-seok ombak badai, aku cuma bisa berlomba dengan waktu dan mencoba untuk tidak karam.

Aku mengenalnya secara biasa, media sosial dan segala tipu dayanya. Berawal dari ia menyapa, kemudian aku hanyut karenanya. Tadinya sih aku dingin dingin so cool gitu, tapi lama-lama kok keterusan juga. Yahoo Messenger yang jadi saksi, antara aku, kamu dan sakitnya dibohongi.

Kalian yang pernah merasakan sakitnya digantung, mungkin akan mengerti sesakit apa hatiku saat ini. Kalau diceritain mah sakitnya tuh kayak lagi asyik di pantai ramai yang mendadak sepi, kemudian tersapu ombak ke tepi, dan terseret ke tengah teluk tanpa ada kesempatan kembali.

Aku terlanjur terjerembab dalam rasa cinta yang meletup-letup layaknya merecon sunatan. Jengah aku dengan janjinya, namun hati ini terlalu tahan banting, atau mungkin cinta ini mengandung formalin, begitu utuh, tak kunjung membusuk.



Setiap malam kita Chit Chat, bahkan sering juga Video Callan. Tapi 6 bulan jalan kita berbagi kesenangan, dia mulai memudar dan kemudian menghilang. Resiko sih, kenal orang hanya lewat dunia maya yang terkenal fana. Aku keep Posthink aja, mungkin dia sibuk. Maklum, dianya itu anak Band gitu. Tapi kok lama-lama kangennya kerasa ya? Mungkin mulai dari sana, hatiku kesentil virus yang yang menyebabkan penyakit bernama ‘sindrom jatuh cinta’.

Aku di Tasik, dianya di Bandung, jarak kami gak jauh kok, cuma naik turun dan berkelok aja, persis kaya persaanku saat ini. Satu tahun gak kontekan, eh dia kembali datang. Padahal kukira dia sudah meminang anak orang. Antara marah, sebel, sama seneng jadi satu. Kecut-kecut sepet tapi manis gitu deh momentnya.

“Malem kamu…” sapa dia.

“Aku kira kamu udah lupa sama aku?” jawab aku.

“Mana bisa aku ngelupain orang sebaik kamu?” jawabnya bikin aku berharap lebih.

Senang bungah bagja sumringah. Aku pun melompat #hap loncat kegirangan, tapi kuterjatuh #gubrag dari kursi goyang. Iiiih, sebel! Manis di kata, pahit di realita… Dia pergi lagi, dan cukup lama. Dua kali lipat durasinya… 2 Tahun lamanya.

Menggantung asa pada tiang lapuk dan rapuh, cintaku hanya tinggal menunggu runtuh. Kucoba mencari tahu, bukan obat yang melegakan aku dapat, malah sebatang lidi yang memecut hati. Pantes aja dia menghilang, hatinya udah dicuri orang.

Sakitnya hatiku ini, mendengar kabar hatimu dicuri. Sebetulnya hati aku sakit, tapi aku mencoba seakan-akan gapapa. Rasa hati remuk gak karuan, teringat manisnya perhatianmu yang dulu kau curahkan. Terbakar rasa cinta, panasnya menyebak di dada.

Tapi dia malah datang lagi, ini yang membuatku bingung. Bingung menimbang, maka kuputuskan untuk  diam. Perhatian demi perhatian dia curahkan, meski aku tahu betul tak sedikitpun ada aku dihatinya. Aku mengalah demi pacar barumu, aku sendiri sedang engkau bercinta. Satu yang kuminta, jangan lupa bahagia.

Pas katanya ada Java Tour buat bandnya. Malam itu sebetulnya kuharap tak pernah terjadi. Dia menelponku melontar sejuta puji. Cinta yang ku kubur malah serasa dipupuk dan disirami, dan si tunas nakal malah mencuat sendiri.

“Aku kangen kamu”

“Ai kamu salah nelpon engga?”

“Engga kok, aku kangen kamu”.

Sandiwara apa lagi ini teh? Aku teh lelah, sumpah.

Dia curhat tentang kekasihnya, padaku yang tersiksa merindu dan berusaha menghapus rasaku padanya. Ketidakpekaannya itu amat menyiksa, aku tersenyum meski punggungku penuh luka. Kuberi kau petuah petuah manis, meski pahit di lidah. Kemudian kau kembali menghilang.

Selang 2 bulan, lagi-lagi kau datang. Sapa aku seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Kabar kau putus dengan pacarmu kembali menghipnotisku. Seperti dulu, kita dekat meski tak pernah rapat. Kita menyatu dalam dunia yang kita ciptakan.

Hingga kau datang sambangi aku, bagai ditimpa pohon kelapa beserta manggarnya. Bahagia kurasa cetar membahana. Kusiapkan senyum terindah, meski hanya untuk semangkuk baso dan beberapa jam saja.

Kemudian dia menghilang lagi 6 bulan lamanya. Namun kali ini aku tak sebal, aku mengerti karena dia sibuk dengan bandnya. Saat dia kembali menghubungi, kubulatkan hati ini.  Tekad yang kukumpulkan tak boleh disia-siakan, kunyatakan perasaan meski harus sakit mendengar jawaban.

“A, aku mau ngomong”

“Ngomong apa sih mi..”

“Sebenernya umi teh sayang sama Aa”

“Hahaha si umi bisaan ngehiburnya”

“Serius A, umi sayang Aa, Cinta Aa.. udah lama rasa ini teh, umi pendam”

“Makasih mi, kamu emang orang yang baik. Aa bahagia”.

Nembak malah dijawab makasih, kamu kuat jadi aku?

Gak mau menggantung diri sendiri, aku putuskan menjauh. Aku mundur perlahan demi kesembuhan hatiku. Aku mundur demi kita, agar tak lagi aku berharap pada fatamorgana yang menyeretku ke tengah gurun panas yang akan mengeringkanku.

Aku abaikan segala pesan dan telp darinya. Kemudian aku blok semua akunnya demi hati ini.

Tapi tanpa perasaan dia terus menerorku. Dia kirimi aku pesan berkata indah, memohon maaf dan mengukir janji. “Kangen” adalah senjatanya meluluhkan aku. Risih aku terus tertanggu, tak diberi waktu membuka lembar baru.

Terakhir kali dia janji tak akan pergi lagi. Namun nyatanya terbalik, hingga saat ini entah dimana kau dan janjimu itu.

Saat aku tunggu, kau menghilang
Tiba-tiba kamu datang tanpa permisi
Stop sayang, aku bukan terminal cintamu
Datang-pergi, parkir hati semau sendiri

Sudah cukup kau bohongi aku
Sudah cukup kau sakiti aku
Tak terasa menetes air mataku
Tak kukira kandas cintaku

Kau pikir hati ini Kos-kosan?
Datang-pergi untuk mainan?

True Story of : I.D.P – Tasikmalaya

Author : -Maul-


Special thanks to Ndx a.k.a for amazing lyrics

Bunga yang Mekar Setelah Hujan




Menitik beratkan pada kerinduan, bebannya tak seberapa berat dibanding perjuanganku menahan sesak saat salami kau di pelampinan bersama wanita lain. Tak mudah untuk membuang sisa kenangan yang membekas, ukiran permanen terlanjur terpampang, kalau di hancurkan, bisa ikut hatiku lebur bersamanya.

Kutatap halaman dari celah jendelaku, hujan sedang menari dengan anggun. Lenggoknya membawa butir-butir kenangan yang memudar. Desir angin yang masuk di celah ventilasi, menggelitik kulitku untuk mengingat dinginnya hari itu.

Sepulang dari pasar, hujan menghadang laju motornya. Tak ingin aku kebasahan, dia menepi di sebuah warung mie ayam. Digandengnya aku masuk, rambutku yang basah dipeganginya, hangat. Tangannya mengusapku manja, matanya memancarkan cinta dan kekhawatiran.

“Nduk, kamu gak papa? Dingin gak?”,

“Hm.. I-ya mas, lumayan dingin” jawabku malu-malu.

Perhatiannya hari itu sudah bagaikan selimut tebal berbulu, halus, nyaman dan tentunya menghangatkan. Warung mie ayam itu sangat ramai, namun dengan sigap dia menemukan celah untukku duduk. Dia berdiri sambil menghisap rokoknya, namun ia matikan sesaat setelah mendengar batuk keluar dari mulutku.

Mie ayam hari itu menjadi istimewa, berbumbu hujan dan cinta. Ah, kalau saja Tuhan tak menurunkan berkahNya, mungkin hari itu tak semanis ini. Hujan reda, dia mengajak aku pulang kemudian. Tanganku melingkar di pinggannya, punggungnya yang lebar dan nyaman itu masih teringat rasanya. Pipi ini memang manja, saat itu dia menempel erat di bajunya yang basah. Hingga terpaksa aku melepasnya, saat ia memberitahu bahwa kami sudah berada di depan rumah. Rasanya begitu singkat, belum puas aku dibuatnya.



Pertemuan kami memang tak sengaja, dan tak disangka kami akan jalan bersama. Diawali aku dan sepupuku membeli pulsa, dan rental PS di dekat sana. Lazim ketika seorang pelanggan menulis nomor HPnya sebagai catatan laporan yang sepenjaga. Hingga datang ia dengan SMS pertamanya.

Awalnya aku tak begitu niat meladeninya, namun kejujurannya membuatku tak sadar bahwa kami bertukar pesan setiap harinya. Dia mencatat nomorku dari Counter Pulsa itu, saat itu dia mengintipku dari jendela rental PS di sebelahnya. Dia ingin menyapa tapi segan, takut tak kurespon alasannya.

Kian lama, pesannya kiat hangat, sadar aku itu hanya siasat, namun tak apa, aku suka karena dia terbuka. Tak puas hanya lewat kata, dia mengajakku untuk bertatap muka. Masih ingat betul aku wajahnya yang memerah itu. Sesekali ia memalingkan muka ketika selesai bicara, biar tidak gerogi katanya. Sering bertemu dan saling melempar perhatian, akhirnya 2 hati bertambat bertautan.

Dia menyatakan cinta dengan terbata, aku menerima dengan senyum bahagia. Tatap mata kami beradu pandang, wajah kami perlahan mendekat. Napasnya mulai berat, wajahnya memerah, tapi dia pucat. Padahal aku sudah pasrah kalau dia ingin menciumku, namun urung ia perbuat. Dia tak senakal itu katanya, aku pun jadi malu sendiri mengingatnya.

Seiring waktu, hubungan kami kian dekat, kami berdua kian erat, rekat. Orang tua kami menyambut baik, hingga  1 tahun hubungan kami berjalan, rencana mulia mulai dibicarakan. Sepulang dari pasar kala itu, hujan kembali turun. Dia mampir ke rumahku, ingin pulang tapi aku larang, ibu dan bapaku juga paham, karena hujan lebat yang menghadang. Hingga dia pasrah saat bapak menyuruhnya menginap saja.

Saat Subuh kulihat wajahnya kusut, tak bisa tidur katanya. Wajar saja, mana ada yang bisa nyenyak tidur di samping calon bapak mertuanya. Dia di suruh menjadi imam namun menggelengkan kepala, belum cukup ilmu dalihnya. Namun bapakku sama kerasnya, akhirnya dia memimpin kami beribadah menghadap Sang Pencipta.

Keluarganya sangat menyayangiku, itu yang kurasakan dari perlakuan mereka. Seakan meraka sudah siap menerimaku sebagai menantunya. Berbunganya hati ini dengan segala wewangiannya. Ibunya sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Dia sangat senang kami dekat, bahkan keluarganya sudah bicara tentang masa depan dan macam macam kebahagiaannya nanti.
Dua bulan sudah dia jadi dingin, tak hangat lagi. Sunggih senyumnya nampak dipaksakan, kuminta antar ke pasarpun dia mengelak seribu alasan. Aku tak tahu apa yang terjadi, aku cuma bisa melamun di kamar, meratapi. Dia mulai membeku, tanpa kutahu apa salahku.

Padahal setahun kami merajut asa, bahtera hampir siap mengarung samudera. Tapi sang calon Nahkoda gundah, karena Kaptennya tak kunjung memberi perintah untuk kembangkan layarnya. Aku terombang ambing dalam gelisah, resah ini menenggelamkanku, apa gerangan yang terjadi padanya.

Sebagai wanita, kodratku hanya menunggu, jika tak kunjung datang niatnya, maka mahkotaku tak akan pernah kupakai. Semakin lama dia semakin dingin, kemudian kubertanya kenapa. Dia tak menjawab, malah marah dia tumpahkan. Aku terisak dalam tangis, sakit hati karena hati cintaku menghitam.

Aku pun mencurahkan semua isi hatiku pada kawanku, dia bilang pasrah saja. Dia menyarankanku untuk berpisah, dia bilang lelaki itu tak pantas untukku. Aku yang percaya menelan semua, rasanya cintaku telah berada di penghujung tiang pancung, siap diputuskan kapan saja.

Rupanya kawanku serigala berbulu domba, dia memegang kendali panggung sandiwara. Didekatinya kekasihku, dikatanya aku penipu. Cintaku berputar di telapak tangannya, tanpa sadar kami berdua jadi bonekanya. Awalnya aku masih tak percaya, kubela kawanku yang memang kupikir mengerti aku, namun semua berakhir kala suatu ketika…

Empat bulan sudah kami tak bertegur sapa, aku diterlantarkan tanpa kejelasan. Ingin kuminta akhiri saja semuanya, namun hati ini masih setengah menerima. Kulihat kasihku membonceng kawanku, dengan lengan melingkar di pinggangnya. Lututku lemas, pundakku tak kuat lagi menopang beban, suara retakan hati menggema telingaku.

Tapi entah kenapa air mata tak bisa menetes, sia sianya rasanya membuang air mata untuk ini semua. Ku paksakan untuk pulang, kukunci diri di kamarku dan terlelap perlahan. Baru saja kuhendak terseret ke alam mimpi, petir membangunkanku. Rupanya langit menggantikan aku, dia menangis dengan lantang. Teriakannya menggema, sedikit lega rasanya karena aku masih punya yang Maha Melihat dan Maha Bijaksana.

Hampir setahun sudah digantungnya aku. Dia dan kawanku semakin berani menebar kemesraan. Ibuku marah padaku, kenapa tak ada kabar bahwa kami telah pisahan. Kujawab datar bahwa aku tak diputusnya, Ibu memelukku sangat lama.

Kukunjungi rumahnya untuk ucapkan maaf dan salam perpisahan. Ibunya menangis pilu menatapku, berkali-kali ia ucapkan maaf. Ia panjatkan doa-doa mulia untukku, agar kebahagiaan menyertaiku. Sementara anaknya terlihat bahagia, pulang ke rumah menggandeng cinta barunya.

Terpaku ia membatu, kawanku hendak bicara namun terbata. Kuucapkan selamat padanya dengan berat hati, namun tetap kuusahakan senyum ini tetap menghiasi. Dia yang pengecut mendunduk malu, kemudian memanggilku setelah beberapa langkah aku menjauh.

“Nduk, mas bisa jelasin semua,”

“Cukup mas, aku cukup tahu dengan kelakuanmu dan Ana,”

“Tapi nduk, bukannya kamu?”

“Aku apa mas? Aku kenapa? Setahun aku menunggu kamu mas, tapi tak kunjung kamu datang. Setahun aku menggantung menanti kejelasan, tapi mas malah senang-senang sama sahabatku! Cukup sampai di sini mas, telan semua janjimu dulu beserta buala-bualan manis itu!”

Aku melawan kodratku, memutuskan tali kekang yang setahun membelenggu. Kukira akan terlontar maaf darinya, namun bukan maaf kudapat malah sepucuk surat undangan yang datang.

Dia menikah dengan Ana karibku, orang yang kucurhati sepanjang waktu. Orang yang memberiku saran untuk tetap kuat, untuk berpikir. Namun aku sudah mengakhir semua, jadi aku tak lagi mempersoalkan. Kuhadiri pesta itu dengan hati yang mengeras mengalahkan karang seorang diri. Orang tuaku tak sampai hati dan tak sudi untuk pergi.

Kusalami ia dengan senyum, tak lupa juga kudoakan dia bahagia dihadapan semua. Orang-orang menatapku, seorang menantu tak jadi yang menyalami calon mertuanya. Ibunya tak , kuat menahan tangis, berulang kali dia mengiba maafku.

“Maafin Feri Shin, Feri yang salah, Feri yang salah,”

“Gak ada yang salah bu, memang sudah jalannya begini,” ujarku

“Feri yang salah Shin, Feri yang salah,” ulangi ibu. Hingga akhirnya bapaknya berhasil menenangkan.

Bapak memegang pipiku, matanya merah seperti menahan tangis. Ditatapnya aku, dan kemudian pecahlah ia. Diusapnya kepalaku sambil memanjat doa mulia…

“Shinta jangan kapok main ke rumah, jenguk bapak sama ibu ya. Shinta hebat, Shinta kuat, Shinta sudah menjadi wanita mulia, Shinta pasti bahagia. Shinta masih tetap akan jadi anak bapak sama ibu, salamin sama orang tuamu yah” katanya.

Aku hanya bisa mengamini, air mataku menetes perlahan meski senyumku tetap kupertahankan. Hingga pulangnya aku, dan menangis keras dalam kamar.

Beruntung ada mas Rama yang membangkitkan aku. Kakak kelas ku zaman sekolah dulu ini dengan sabar menyembuhkanku, dan kemudian meminangku. Kami hidup sangat bahagia, ditambah lagi kami dikaruniai seorang putri yang lucu.

Hujan mulai mereda, tak sadar aku melamun mengenang masa lalu. Mas Rama yang membuyarkan lamunanku. Menyadarkanku bahwa cinta sejatiku sedang duduk di sampingku sambil membaca buku. Ku peluk lengannya dan kusandarkan pipiku dipundaknya.

“Kebiasaan deh, giliran papa nganggur di diemin. Giliran papa baca buku kamu nyender,” Protesnya.

“Gapapa dong pa, abis pundak sama punggung papa nyaman sih,” pungkasku.

“Mau baca juga?” tawarnya.

“Emang buku apa?” tanyaku.

“Novel, bagus, baca deh” sarannya.

“Aku maunya dibacain,” jawabku manja.

“Hish dasar, sini” kata ia mencolek hidungku.

“Yeey” sambutku gembira sambil merebahkan diri di sopa dan menjadikan paha suamiku sebagai bantalnya.

Tanpa sadar aku tertidur, sadar aku sudah berada di kamar berbalut selimut dengan mas Rama memelukku mesra.

“Seperti bunga yang mekar sesaat setelah diterpa hujan, butir air sisa hujan menempel padaku dan menambah keindahan”.

Terinspirasi dari kisah kawanku ******


Author : -Maul-